Rifi rindu ibu. Rinduuu sekali. Tapi setelah rifi pikir,
ternyata rindu rifi bersyarat. Alangkah pamrihnya cinta anak dan alangkah
tulusnya cinta ibu..
Rifi rindu ibu, krn kpd beliau rifi bisa bermanja-manja.
Rifi rindu, karena ibu satu”nya pembela yg rifi punya. Rifi rindu ibu karena
rasa tenteram yg beliau hadirkan di atmosfir rumah. Rifi rindu karena ingin
bercerita ttg segalanya. Rifi jd semakin rindu, teramat sangat, ketika rifi
sakit. Rifi membayangkan belaian ibu, tatap hangatnya, dan sarapan yg
diantarkan ke kamar. Alangkah!
Rifi rindu ibu karena hal” di atas. Sedangkan ibu sll
merindui rifi, lebih karena diri rifi sendiri. Bukan menunggu teman bercerita.
Bukan agar ada yg membantu pekerjaan rumah. Bukan krn rifi anak yg bisa
membanggakan.. Tp karena diri rifi sendiri. Sampai ibu pernah menunggu rifi
pulang sekolah, menyiapkan hidangan terbaik, cuma utk melihat rifi datang,
makan, tidur, sholat, lalu pergi lagi tanpa sempat cerita apapun. Ibu ga pernah
sedetik pun mengurangi kadar cintanya. Sejelek apapun sang anak. Alangkah Ibu
mencintai seutuhnya…