Kamis, 13 Januari 2011

Rindu

Rifi rindu ibu. Rinduuu sekali. Tapi setelah rifi pikir, ternyata rindu rifi bersyarat. Alangkah pamrihnya cinta anak dan alangkah tulusnya cinta ibu..

Rifi rindu ibu, krn kpd beliau rifi bisa bermanja-manja. Rifi rindu, karena ibu satu”nya pembela yg rifi punya. Rifi rindu ibu karena rasa tenteram yg beliau hadirkan di atmosfir rumah. Rifi rindu karena ingin bercerita ttg segalanya. Rifi jd semakin rindu, teramat sangat, ketika rifi sakit. Rifi membayangkan belaian ibu, tatap hangatnya, dan sarapan yg diantarkan ke kamar. Alangkah!


Rifi rindu ibu karena hal” di atas. Sedangkan ibu sll merindui rifi, lebih karena diri rifi sendiri. Bukan menunggu teman bercerita. Bukan agar ada yg membantu pekerjaan rumah. Bukan krn rifi anak yg bisa membanggakan.. Tp karena diri rifi sendiri. Sampai ibu pernah menunggu rifi pulang sekolah, menyiapkan hidangan terbaik, cuma utk melihat rifi datang, makan, tidur, sholat, lalu pergi lagi tanpa sempat cerita apapun. Ibu ga pernah sedetik pun mengurangi kadar cintanya. Sejelek apapun sang anak. Alangkah Ibu mencintai seutuhnya…