ini adalah cerita sederhana karanganku. ceritanya waktu itu ikut lomba nulis cerpen,, tapi ga menang . hhe . ya ga' apalah . bisa ngalahin diri sendiri ampe cerpen ini kelar aja udah jd kemenangan terbesar dan terindah... ya, ga' ? ^^
enjoy it! :)
PIALA-PIALA PATAH
Lantai putih, dinding putih, dan orang-orang berseragam putih. Kalian pasti bisa tebak, tempat apa. Ya, rumah sakit. Bau obat mewarnai koridor rumah sakit yang lengang. Suara tangis seorang bayi menerobos kesunyian. Jarum jam menunjukkan pukul enam. Beberapa petugas sudah datang untuk memulai aktivitas pagi mereka.
Di sebuah kamar bersalin, seorang ibu tengah terbaring letih. Di sampingnya ada seorang gadis cilik bersama ayahnya yang sedang menggendong bayi laki-laki yang sudah bersih dan sudah diazani telinganya.
“Anak ini, Bunda, akan menjadi seorang yang berakhlak mulia, taat pada Robbnya, serta berbakti pada kedua orangtua,” kata sang ayah dengan suara gemetar menahan air mata bahagia. “Ya, Ayah,” wanita itu hanya menjawab singkat. Tangannya mengelus rambut putri sulungnya yang memandang khawatir.
Anak kedua, laki-laki. Lengkaplah kebahagiaan orangtua itu. Tak putus-putus sang ayah mendoakan keturunannya.
“Ia akan menjadi orang yang selalu terdepan dalam kebaikan. Seorang pionir. Penggerak. Pembuka. Ya, Fatih, Bunda. Itu nama untuknya.” Laki-laki itu berkata tegas, menunjukkan kesungguhannya yang tak gampang diubah. Istrinya hanya tersenyum, sangat bahagia.
“Fatih. Muhammad Khair al-Fatih. Itulah nama adikmu, Farisa al-‘Izzah…”
Dan bertahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi anak laki-laki yang cerdas dan pemberani. Ah, setiap mendengar cerita itu, baik dari mulut Ayah, Bunda, maupun Kak Risa, aku bertekad menjadi seperti yang Ayah Bunda harapkan. Ya, bayi itu adalah aku.
Kalau aku sudah mulai bertingkah, maka Bunda akan menunjukkan kemarahannya dengan memanggil nama lengkapku. Dan bila nama lengkapku disebut, aku selalu teringat akan doa dan harapan Ayah Bunda padaku.
***
“Dan … juara satu diraih oleh… Muhammad Khair al-Fatih..!”
Aku berlari menuju panggung. Tak begitu terkejut. Aku memang cukup pandai menggambar dan sudah biasa memenangi perlombaan sejenis, bahkan sampai tingkat provinsi. Kali ini hanya lomba skala kota. Tapi, yah, lumayan juga. Bisa menambah koleksi pialaku.
Setelah menerima piala, aku bergegas berlari mencari Ayah di deretan penonton. Ayah menyambut dengan senyum lebar dan tangan terbentang, siap menangkap tubuhku yang melompat ke pelukannya. Lalu Ayah akan mengangkat tubuhku tinggi-tinggi, seolah aku ini pialanya. Bunda menggendong Dek Fathina. Lalu kami sekeluarga akan jalan-jalan bersama. Ke mana saja, yang penting bersama. Kadang aku berpikir, kebahagiaan itu bukan soal ‘apa’ atau ‘di mana’, tapi ‘dengan siapa’. Asal dengan orang yang kita sukai, pasti terasa menyenangkan. Ah, sayang, Kak Risa tidak bisa datang. Kak Risa baru pulang sekolah jam tiga sore.
Biasanya malamnya kami berkumpul, dan aku akan mengulang cerita pada Kak Risa. Lalu sebelum kami semua pergi ke kamar masing-masing, aku akan –dengan sangat bersemangat-, memamerkan piala yang baru saja kuraih dan meletakkannya di rak depan dengan ekstra hati-hati. Enam. Aku menghitung dan tersenyum puas. Lomba mata pelajaran, bersepeda, catur, siswa teladan dan bahasa Inggris.
Enam. Itu jumlah pialaku yang Ayah tahu. Ya, sebab sebelum aku meraih piala berikutnya, Ayah sudah keburu pergi.
Padahal seingatku, aku tidak pernah melihat Ayah sakit-sakitan. Ayah tidak pernah sakit gigi. Ayah tidak pernah sakit mata. Paling parah, Ayah hanya terserang flu. Tapi hari itu, Ayah tidak sedang flu. Ayah juga tidak mengalami kecelakaan apapun. Ayah hanya pulang dari masjid usai shalat Subuh. Aku berjalan di belakang Ayah, tapi tiba-tiba temanku memanggil dan mengajak jalan pagi. Ketika aku pulang setengah jam kemudian, aku melihat Ayah berbaring di depan televisi, seperti biasa. Tapi ada Bunda, duduk sambil menggenggam tangan kanan Ayah dengan raut aneh. Kak Risa juga memperlihatkan raut yang sama dengan Bunda. Situasi saat itu begitu aneh dan aku tak bisa mengerti. Tiba-tiba Bunda bersuara, “Fatih, ayahmu meninggal, Nak!”
Aku terdiam di tempat, lama sekali, seolah tubuhku telah mengeras dan menyatu dengan lantai yang kupijak. Aku tak pernah nakal. Aku selalu menuruti perkataan Ayah. Mengapa Ayah harus pergi secepat ini?
Aku izin tak masuk sekolah, bahkan semua teman sekelasku juga diizinkan untuk berkunjung ke rumahku. Juga teman-teman Kak Risa. Aku memeluk tubuh Bunda erat-erat. Aku ingin menangis. Tapi Bunda tak menangis. Mengapa Bunda tak menangis? Mengapa aku sangat jarang melihat Bunda menangis? Ternyata Bundaku adalah wanita batu karang.
Tapi aku tetap menangis. Aku menangis sesenggukan hingga dadaku terasa sakit. Aku sedih bila mengingat Dek Fathina yang masih kecil. Aku sedih melihat Kak Risa menangis. Aku sedih melihat Bunda. Teman-teman menyalimi dan memelukku satu per satu. Memberi kekuatan.
***
Ayahku adalah ayah super, meskipun tak pernah mengikuti apalagi memenangkan kontes Ayah Super. Ayah seorang guru Fisika SMA, dan juga sangat mahir dalam Matematika. Aku senang sekali diajari Matematika oleh Ayah. Rasanya sangat jelas. Makanya, teman-teman tak heran ketika aku bisa Olimpiade Sains Nasional bidang Matematika sampai babak semifinal. Dan Ayah menyeimbangkan otak kanannya dengan hobinya bermain musik. Ayah pandai bermain biola. Tapi Bunda kelihatannya tak berminat dengan musik sedikit pun.
Jika dari Ayah kami belajar ilmu eksak, musik, dan juga beladiri (Ayah juga seorang pelatih karate), maka dari Bunda kami belajar keindahan bahasa, kelembutan jiwa, dan keseimbangan emosi. Bunda juga mewariskan kepiawannya berbahasa asing pada ketiga anaknya. Pokoknya, aku sangat bangga pada Ayah dan Bunda!
Ayah adalah pekerja keras. Ayah tak bisa diam saja tanpa melakukan sesuatu. Kalau tempat kerjanya libur, Ayah akan menyibukkan diri merapikan rumah. Ada saja yang dilakukan. Mencabut rumput di halaman, memperbaiki genteng, membersihkan kolam ikan, mencuci motor,… Dan kalau tak ada yang perlu diperbaiki ataupun dibersihkan, Ayah akan mengotak-atik peralatan bertukangnya dan, sim salabim! jadilah kursi khusus buat Dek Fathina di motor, jadilah rak buku dan meja belajar untukku dan Kak Risa,..
Sibuk sekali, kan, ayahku? Tapi Ayah selalu punya waktu untuk keluarganya. Bukankah semua yang Beliau lakukan adalah untuk keluarga yang disayanginya? Tak hanya untuk keluarga, untuk Pencipta-nya pun Ayah tak pernah terlalu sibuk. Hampir selalu, Ayah sholat lima waktu di masjid. Dan kewajiban kami sekeluarga, setelah sholat Maghrib adalah waktunya mengaji. Tidak ada tivi-tivian. (Adanya tivi betulan. Hehe..). Ditambah kesukaan kami sekeluarga akan membaca, jadilah televisi itu seperti koleksi di museum.
Setelah Ayah meninggal, Bunda jadi lebih banyak diam. Aku jadi kasihaaan sekali pada Bunda. Mungkin Bunda pusing memikirkan nafkah untuk menghidupi anak-anaknya (“Mengapa Bunda harus pusing memikirkan rezeki, bila Bunda punya sang Pemilik Kekayaan?” Ini jawaban Bunda ketika tak sengaja aku mebicarakan hal tersebut.) Atau mungkin, Bunda merasa sangat kehilangan Ayah, sehingga Bunda ingin menyendiri dan menangis? Tapi siapa, sih, yang tak merasa kehilangan Ayah? Jangankan kami, kucing tetangga saja langsung menjadi kurus dan sakit-sakitan sepeninggal Ayah. Tak lama kemudian, kucing itu pun menyusul Ayah. Ya, Ayah sangat perhatian, bahkan kepada binatang. Meskipun bukan miliknya, tapi bagi Ayah, kebaikan yang kita lakukan kepada siapapun, seluruhnya akan kembali ke kita.
Intinya, suasana rumah tak lagi sama. Dek Fathina yang waktu itu baru berusia tiga tahun lebih, masih sering menanyakan Ayah. “Bun, Ayah mana, sih? Pergi, kok, lama sekali, tak pulang-pulang?” Dan kami akan semakin terdiam.
Maryam Fathina tak sempat lama merasakan kehadiran Ayah. Mungkin ia tak begitu ingat, bagaimana persisnya wajah Ayah. Namun didikan Bunda yang luar biasa telah menjadikannya anak yang sangat cemerlang. Fathina, sepeti aku dan Kak Risa, sudah pandai membaca sebelum berusia empat tahun. Lalu Fathina masuk SD usia lima tahun, dan langsung duduk di kelas dua. Kesukaannya membaca membuatnya tahu banyak hal yang kadang, gurunya sendiri tak tahu.
Melihat Bunda, Kak Risa dan Dek Fathina, aku berjanji, sebagai anak laki-laki satu-satunya, akan menjaga mereka sepenuh jiwaku. Meskipun waktu itu aku baru kelas tiga SD, tapi aku telah bertekad sungguh-sungguh. Bukankah selama ini Ayah mengajarkan pada anak-anaknya sikap bertanggung jawab?
Apalagi, aku sering membaca biografi orang-orang sukses, dan sering kali, mereka adalah orang-orang yang berbakti pada ibunya. Yang paling kusukai adalah cerita tentang Uwais al-Qarny yang, kata Rasulullah saw., doanya mustajab. Rasulullah saw. sampai berpesan pada Umar bin Khaththab agar jika bertemu, jangan lupa untuk minta dido’akan, sebab Allah akan segera mengabulkan do’anya.
Ketika Umar bertanya akan rahasia kemustajaban do’anya, Uwais bercerita, bahwa ia mempunyai seorang ibu yang sudah sangat renta. Ke mana-mana, ibunya itu ia gendong. Bahkan ketika ibunya ingin pergi berhaji, ia pun tetap menggendong ibunya. Karena perbuatannya yang seperti itulah, Allah akan sangat mendengar do’anya. Cerita-cerita seperti itulah yang membuatku ingin berbakti sekuat tenaga pada Bunda.
***
“And the winner is…” Aku takkan heran kalau namaku yang disebut. Dan, benar saja. “Muhammad Khair al-Fatih!” seru sang presenter, menandakan aku harus ke panggung untuk menerima piala. Dari atas panggung, aku memandang bangku penonton sejenak. Tidak ada Ayah. Tentu saja. Ayah sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu. Tidak ada Bunda juga. Ini sudah ketiga kalinya aku berlomba, dan Bunda tak pernah datang mendampingiku. Biarlah. Aku menang dan dapat piala, itu sudah cukup.
Bohong, kok. Sebenarnya aku sangat ingin Bunda datang, melihatku bertanding, lalu tersenyum bangga ketika namaku dipanggil sebagai juara. Aku ingin membuat Bunda bangga padaku. Sejak Ayah meninggal, aku memutuskan untuk membaktikan hidupku pada Bunda. Aku ingin selalu menjadi juara. Untuk membuat Bunda tersenyum.
Nyatanya, Bunda kini harus bekerja lebih keras. Pagi, mengajar di sebuah SMP negeri, lalu sorenya mengerjakan pesanan jahitan. Tak jarang, sampai malam Bunda masih berkutat dengan mesin jahit. Jahitan Bunda disukai banyak orang. Rapi, cepat, dan murah. Pesanan tak habis-habis bertumpuk.
Akibatnya, Bunda tidak pernah sempat menonton perlombaan-perlombaan yang kuikuti. Kadang, aku berusaha menghibur diri dengan mengingat bahwa aku bisa bercerita puas-puas pada malam harinya. Tapi ternyata, malamnya Bunda masih sibuk menjahit. Atau kalaupun sudah selesai, Bunda akan terlihat sangat kelelahan dan bersiap istirahat. Kak Risa juga. Setiap usai makan malam dan membereskan dapur, Kak Risa akan menuju kamarnya. Belajar.
Hhh.. Jadilah piala-pialaku menjadi pajangan yang kehadirannya tak dianggap. Ya, dari dulu memang Ayah saja yang paling bersemangat menyambut kehadiran piala baru. Dan piala itu pasti milikku. Sebab Dek Fathina masih kecil. Dan Kak Risa jarang mengikuti lomba-lomba. Kak Risa hanya suka menulis. Pernah memang, memenangi beberapa lomba menulis, tapi tidak ada pialanya. Kadang kalau berjalan-jalan ke toko buku, aku menemukan sebuah buku yang di bawahnya tertulis nama pengarangnya, Farisa al-‘Izzah. Jika saat itu ada teman-temanku, maka aku akan bercerita bangga, bahwa pengarang buku tersebut adalah kakakku.
Aku meletakkan piala yang tadi pagi kuraih di rak, bersama sepuluh piala lainnya. Di bawahnya terukir tulisan rapi, ‘1ST WINNER OF SPELLING BEE CONTEST’.
Pikiranku melayang, mengulang kejadian lomba tadi pagi. Ramai sekali pesertanya. Teman-temanku banyak yang ikut. Bahkan, kami sempat latihan bersama. Tapi teman-temanku pada berguguran di babak penyisihan kedua. Mereka tidak mempersoalkan menang kalah. Yang penting senang. Apalagi tiap peserta diberi kaos keren. Bersama mereka, aku belajar mengikuti lomba dengan santai. Ketika aku berlaga di babak final, teman-teman bersorak, meneriaki namaku. Aku tersenyum pada mereka. Meskipun beberapa peserta ada yang didampingi orangtua, tapi aku cukup bersemangat karena ada teman-temanku.
Pada beberapa anak tertentu, ada yang berusaha agar ketika mereka tampil, orangtuanya tidak datang melihat. Grogi, katanya. Takut ada yang salah, lantas dicela. Tapi aku tidak begitu. Dari dulu aku selalu senang jika ada Ayah dan Bunda. Aku akan berusaha sebaik-baiknya. Karena itulah, aku sangat ingin Bunda datang, mendampingi dan menyemangatiku. Tapi Bunda terlihat tidak begitu peduli dengan prestasi-prestasi yang kuraih. Aku menang ataupun tidak, reaksi Bunda sama saja.
Kadang aku juga tidak peduli, Bunda datang atau tidak. Seperti ketika lomba mengeja itu. Tapi kadang aku sangat peduli. Aku sangat ingin memperlihatkan pada Bunda, betapa berartinya Bunda untukku.
Hari itu, aku mengikuti seleksi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional. Tapi ini baru seleksi tingkat kabupaten. Aku mengikuti cabang karate. Aku belum cerita, ya, meskipun baru kelas enam SD, aku sudah memegang sabuk coklat. Sebab ayahku seorang karate-ka. Bagiku, seleksi ini sangat penting. Aku ingin meneruskan cita-cita Ayah.
Meskipun aku tidak mewanti-wanti agar Bunda datang, tapi kuharap Bunda mengerti. Dari dulu aku paling gemar latihan karate. Tapi sampai pertandingan dibuka, Bunda belum juga terlihat. Padahal ini hari Minggu, Bunda tidak mengajar. Sampai namaku disebut, aku masih mencari-cari wajah Bunda. Akhirnya aku masuk ke arena dengan perasaan campur aduk. Aku ingin marah pada Bunda. Aku ingin berlari pulang dan tidak mengikuti pertandingan ini. Tapi kalau aku tidak bertanding, nanti Ayah sedih..
Mungkin karena bertanding dengan emosi tak menentu seperti itu, atau mungkin karena belakangan ini aku memang jarang datang ke dojo untuk latihan, aku kalah. Rasanya seperti tidak percaya. Hatiku menyalahkan Bunda. Kalau Bunda datang, mungkin tidak akan begini.
Begitu pertandingan resmi ditutup, aku berlari kencang dengan mata perih, menahan air mata. Tapi aku tidak ke rumah. Aku berlari menuju hutan dekat sekolahku. Makam Ayah. Ranting-ranting dan daun kering berderik ketika kuinjak. Suaranya menggema di telingaku, mengabarkan sepinya tempat ini.
Setelah mengucap salam dan melepas sepatu, aku duduk di samping kuburan Ayah. Aku memang sering ke sini jika sedang ada sesuatu. Biasanya aku akan bercerita panjang lebar. Kata Kak Risa, sebenarnya orang yang di dalam kuburan itu bisa melihat dan mendengar kita, juga menjawab salam kita, hanya saja kita tidak bisa mendengarnya.
Ya, biasanya aku mengadu segalanya di depan makam Ayah. Aku bercerita kejadian di sekolah, aku mengadukan temanku yang badung, apa saja. Tapi kali ini aku hanya duduk, menenggelamkan mukaku di kedua lutut, dan menangis. Aku tidak tahu, apa aku sempat tertidur. Begitu aku mengangkat kepala, Kak Risa sudah ada di sampingku. Berdiri sambil tersenyum lembut. “Ayo, pulang. Sebentar lagi Maghrib,” ajaknya. Aku tak menolak. Bunda selalu membiasakan kami untuk bangun sebelum ayam berkokok, dan pulang sebelum burung-burung pulang ke sarangnya.
Maghrib bagi keluarga kami adalah waktu yang sangat sakral. (Atau memang begitu juga bagi semua orang?) Sebelum dan sesudah Maghrib, tidak ada aktivitas selain yang bermanfaat. Jarang sekali kami keluar rumah setelah Maghrib kecuali ada sesuatu yang sangat mendesak. Biasanya kami sekeluarga akan mengaji usai sholat Maghrib, lalu makan malam sebelum Isya’. Kelak, ketika berusia lebih besar, aku baru tahu, ternyata tradisi keluargaku untuk makan sebelum waktu Isya’ itu sangat bagus, baik dari segi agama, maupun kesehatan.
Aku dan Kak Risa berjalan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. “Kamu kecewa, Fatih?” tanya Kak Risa tiba-tiba. Aku hanya mengangguk pelan. “Karena?” kejarnya lagi. “Bunda tidak datang, melihatku bertanding,” jawabku pelan dengan kepala tertunduk.
“Salah,” kata Kak Risa. Aku terperangah. “Fatih kecewa, karena Fatih tidak menang,” lanjut Kak Risa, membuatku terkejut. Sebelum aku sempat menyanggah, Kak Risa melanjutkan omongannya.
“Fatih selama ini selalu juara. Baik di kelas, maupun bermacam-macam lomba. Fatih sangat jarang merasakan kekalahan. Tanpa Fatih sadari, Fatih mulai tinggi hati dan merasa pasti selalu menang. Jadi ketika Fatih kalah, Fatih akan merasa sangat terpukul dan mulai menyalahkan orang lain.”
“Tapi Kak Risa sendiri, dari SD sampai lulus SMA selalu peringkat satu di kelas,” bantahku.
“Ya, tapi Kakak tak mengejar juara. Kakak hanya berusaha melakukan yang terbaik. Mempelajari apapun yang Kakak bisa. Juara, itu hanya salah satu imbasnya.”
Aku agak bingung dengan penjelasan Kak Risa. Tidak mengejar juara, tapi juara? Aku juga juara, tapi kalau kalah aku akan terpukul, Kak Risa tidak? Aku bingung. Seolah membaca pikiranku, Kak Risa lanjut menjelaskan.
“Fatih ingat, ketika kenaikan kelas enam kemarin, Fatih mendapat peringkat tujuh. Apa yang Fatih rasakan?”
Aku terkesiap, berhenti berjalan dan memandang Kak Risa. Di dalam kedua bola matanya aku seakan melihat kembali kejadian empat bulan yang lalu.
***
Aku berjalan sambil menunduk, menekuri langkah. Di tangan kananku tergenggam sebuah buku bersampul biru. Rapor. Tadi pagi pembagian rapor semester dua kelas lima. Di sekolahku ini, untuk mengambil rapor tidak harus oleh wali murid, tapi boleh diambil sendiri.
Begitu menerima rapor dan membukanya, aku bergegas pulang, tidak menunggu pembagian selesai sambil bercanda dengan teman-teman, seperti biasanya. Aku tidak ingin percaya pada angka yang kulihat di raporku. Tapi sebenarnya, aku sudah bisa menduga, aku tidak meraih peringkat satu! Dan tidak tanggung-tanggung, aku meluncur ke peringkat tujuh.
Aku berjalan seperti orang linglung. Bukan si Linglung temannya Donal Bebek, tapi memang linglung. (Nah, loh?!) Kadang aku berlari, tapi sebentar kemudian berhenti. Aku tak ingin bertemu dan ditanya macam-macam oleh teman-teman. Tapi kalau aku bergegas pulang, aku akan bertemu Bunda. Sebaiknya apa yang harus kulakukan? Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Daripada di jalan, panas-panasan.
Semua detil itu, semua perasaan itu, masih bisa kuingat, bahkan kurasakan dengan sangat jelas. Aku ingat, aku berusaha masuk rumah dengan mengendap-endap. Seperti maling saja. Maling di siang bolong. Tapi ternyata, Bunda sudah menunggu di teras dengan kue-kue enak. Aku jadi semakin merasa bersalah.
Dengan keringat dingin, aku menyerahkan rapor kepada Bunda. Bunda membolak-balik halamannya, mencari-cari. Ah, sebaiknya sebelum ketahuan, aku mengaku saja.
“Bunda, Fatih minta maaf…,” kataku lirih.
“Minta maaf karena?” tanya Bunda heran, tapi tidak berhenti membalik halaman rapor. “Oh!” seru Bunda tiba-tiba. Sepertinya Bunda sudah menemukan halaman yang dicari. Kedua alisnya terangkat dan mulutnya terbuka sedikit. Tapi jangan bayangkan ‘Oh!’nya Bunda seperti yang ada di tivi, kaget, sampai tidak sadar gelas yang di tangannya jatuh dan pecah. Bukan. Bunda mengucap ‘Oh!’ dengan ujung menggantung, seolah akan melanjutkan, “Oh, jadi cuma segitu kemampuanmu?”
Aku memejamkan mata, membayangkan reaksi Bunda selanjutnya.
“Ya ampun, Fatih! Rangking tujuh?! Kakakmu saja tak pernah tergeser dari rangking satu selama 12 tahun. Masa’ kamu tidak bisa mencotoh kakakmu itu? Anak macam apa kamu ini?Pokoknya semester depan kamu tidak boleh bermain ke luar rumah!”
Tidak. Tidak. Bundaku tidak segalak itu.
“Hhh.. Rangking tujuh, Nak?” Lalu sambil menggeleng tak percaya, Bunda melanjutkan, “Fatih anak kebanggaan Bunda, harapan Bunda, anak laki-laki satu-satunya.. Padahal Bunda sangka Fatih rangking satu. Bunda sudah menyiapkan kue kesukaan Fatih…”
Waa.. Ini kemungkinan yang paling tak kuharapkan. Bunda kecewa adalah bencana yang lebih besar daripada Bunda marah. Sebab menurutku, kalau Bunda marah, artinya Bunda memang mengakui kejelekan dan kesalahanku. Tapi kalau kecewa.. berarti Bunda sudah menetapkan suatu nilai bagus untukku, tapi aku sendiri malah mencoreng nilai itu.
Sekarang aku membuka mata lebar-lebar, menunggu reaksi Bunda. (Tidak jelas, ya? Tadi memejamkan mata, sekarang dibuka lebar-lebar. Memang begitu bila orang tegang) Semua memang salahku. Aku terlalu asyik di kegiatan ekstrakurikuler sehingga sering menelantarkan tugas, peer, dan ulangan. Aku sungguh siap jika harus menerima kemarahan Bunda yang meledak-ledak, meskipun itu hampir tak mungkin. Bunda amat jarang marah, apalagi sampai meledak-ledak tak jelas. Bunda kalau marah akan diam, tidak mau melihat wajah yang salah, sampai meminta maaf. Seolah sangat terluka. Seolah kenakalan yang diperbuat telah melampaui batas, sehingga tak bisa ditangani lagi. Makanya, sebisa mungkin aku tak ingin sampai membuat Bunda marah.
Namun kalau kali ini Bunda harus marah, aku akan terima. Walaupun dengan cara Bunda yang membisu, menyiksa. Aku siap. Tapi tidak, jika Bunda harus kecewa. Oh, rasanya aku menyesal sekali. Aku ingin berjanji akan menjadi anak yang terbaik untuk Bunda.
“Jadi ini..?” tanya Bunda memecah kesunyian yang sebenarnya hanya sekian detik saja, namun kurasa bagai sudah beberapa jam. Aku menggigit bibir bawahku, melirik kanan kiri. Kak Risa sudah berdiri di ambang pintu. Dek Fathina mana, ya? Tidur, mungkin. Dek Fathina biasa tidur sepulang sekolah.
“Jadi ini, alasan Fatih minta maaf?”
Aku mengangkat kepala, memandang wajah Bunda sejenak, lalu kembali menunduk. Aku diam saja sambil memainkan kaki.
Tiba-tiba Bunda tertawa.
Aku mengangkat kepala lagi, memastikan aku tidak salah dengar. Memang tidak salah. Bunda tertawa sambil menggeleng gemas dan mengacak rambutku.
“Fatih, Nak.. Fatih harus tahu,” kata Bunda serius. Bunda memegang lenganku dan menatap mataku lurus-lurus. “Bunda selalu sayang sama anak-anak Bunda, dan akan tetap sayang, rangking berapa pun kalian.”
***
Aku memutar kepala, memandang Kak Risa yang berdiri di sampingku. Tercenung. Maksudnya aku yang tercenung, bukan kak Risa. Bagian terakhir itu, kata-kata yang diucapkan Bunda.. aku baru ingat! Setelah Bunda mengucapkan itu aku malah merasa semakin bersalah dan sungguh-sungguh berjanji akan melakukan yang terbaik untuk Bunda.
Kak Risa tersenyum melihatku, seolah bisa membaca apa yang kupikirkan. Apa jangan-jangan, ketika aku membayangkan kejadian yang telah lewat, bayangannya muncul di atas kepalaku, seperti di kartun-kartun? Hehe.. Ya, tidaklah! Kak Risa meraih tanganku, menggenggamnya dengan kedua tangannya. Lalu kami berjalan pulang.
“Manusia terlalu mahal untuk diukur dengan angka-angka,” gumam Kak Risa pelan.
***
Seperti biasa, aku menyalimi Bunda, berpamitan hendak ke sekolah. Bunda membalas dengan memberiku dua kecupan di pipi kanan kiri. Hei, kalian mau tahu, rahasia mengapa aku tidak nakal dan cukup berprestasi? Ciuman Bunda, itu rahasianya. Sungguh! Menurut penilitian Bernie Siegel, ciuman seorang ibu bisa membuat anak lebih berprestasi dan meredam kemarahannya. Benar, kok! Aku baca itu di sebuah majalah. Banyak baca, banyak tahu. Hehe..
“Fatih berangkat, Bunda, Kak Risa!” kataku setelah mengenakan sepatu. Pagi-pagi begini Kak Risa sudah sibuk membereskan rumah.
“Daa.. Kak Fatih!” teriak adikku yang sudah rapi berseragam sambil melambaikan tangan kuat-kuat. Aku balas melambai.
“Fatih, main bola, yuk!” ajak teman-temanku ketika jam istirahat tiba. Aku tak menolak. Aku memang suka banyak bergerak. Aku suka berlari. Aku suka melompat, apalagi menendang bola. Teman-teman senang mengajakku bermain bola. Aku juga senang. Tapi kalau seragam sekolahku mulai kotor, aku akan berhenti.
“Teman-teman, aku berhenti, ya?” kataku disambut desah kecewa teman-temanku. Wajah mereka mengiba, membuatku tak tega. Tapi aku lebih tak tega lagi rasanya jika mengingat Bunda dan Kak Risa yang harus bersusah payah mencuci seragamku yang kotor. Syukurlah, tak lama kemudian, bel tanda istirahat berakhir berbunyi.
“Wah, enak sekali di kelas ini, ya? Haruum keringat,” kata Pak Saiful ketika memasuki kelas. Kami yang merasa tersindir cuma senyum-senyum dan saling pandang. Aku sempat menangkap pandangan iri di mata Ilham ketika melihat Pak Guru menyindir kami yang cepat-cepat ia sembunyikan. Ketika kami bermain bola juga, Ilham akan memandang kami penuh rasa iri.
Sejak kecil, Ilham menderita lemah jantung. Ngg.. kalau tidak salah, katup jantungnya ada yang bocor. Ia tak bisa berlari sebebas kami. Sebentar saja ia berlari, ia harus segera berjongkok, entah sedang apa. Aku bersyukur sekali Allah memberiku kesempurnaan fisik. Aku bisa berlari dan melompat sesuka hati. Kadang, kalau sedang berolahraga, aku akan teringat pada Ilham, lalu kembali bersyukur banyak-banyak.
Lain lagi dengan Sabrina. Temanku yang baik hati ini menderita asma karena keturunan. Pernah, asmanya kumat di sekolah, dan kami semua langsung jadi heboh. Bu Guru memasukkan sebuah benda ke mulutnya dan menyemprotkan isinya. Sabrina megap-megap. Tangannya menggapai ke sana ke mari, seolah ingin menangkap udara untuknya bernapas. Ya Allah.. Ternyata udara yang biasa kita hirup tanpa kita pikirkan ini bernilai sangat mahal bagi orang-orang seperti Sabrina.
Suatu hari, Sabrina berkata kepada kami semua, “teman-teman, tadi malam tidurku nyenyak sekali, loh!” Ia mengucapkannya seperti orang yang mendapat hadiah berupa kapal pesiar mewah. Wajah Sabrina pagi itu memang lebih cerah dan berseri-seri.
Begitulah. Bagi Sabrina, tidur nyenyak adalah suatu kejadian yang langka dan sangat menyenangkan hatinya. Setiap malam, ia harus terbangun beberapa kali bila paru-parunya meminta udara. Sesenti demi sesenti udara ia paksa masuk melewati tenggorokannya yang sempit. Mungkin hanya sebulan sekali Sabrina mengucapkan kegembiraannya bisa tidur dengan nyenyak.
Aku jadi merinding sendiri bila Sabrina bercerita betapa senang hatinya bisa tidur nyenyak selama satu malam. Padahal aku biasa tidur dengan nyenyak dan nyaman, tapi begitu terbangun merasa biasa saja, seolah itu adalah hal yang wajar. Kami semua senang menyimak cerita Sabrina yang sangat jarang itu. Sebab ekspresi muka Sabrina bagai habis bermimpi masuk ke dalam surga.
Ilham dan Sabrina adalah teman yang mengingatkanku untuk selalu bersyukur. Aku senang berteman dengan mereka berdua.
Istirahat kedua aku dan teman-teman ke kantin.
“Aku tak pernah sarapan,” jawab Zaki saat kutanya mengapa setiap hari harus jajan. “Mengapa?” Aku sungguh heran. Bagaimana bisa berangkat sekolah tanpa sarapan?
“Ummi kalau pagi tak sempat menyiapkan sarapan,” jawab Zaki. Oo.. Aku hanya manggut-manggut. Seingatku aku selalu sarapan sebelum ke sekolah. Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, tiba-tiba Arya angkat bicara.
“Mamaku, kalau pagi sih, sempat saja menyiapkan sarapan..,” katanya sambil menyendokkan nasi ke dalam mulut. “Tapi cerewetnya, ampuuun! Aku tak bisa makan dengan tenang.”
“Kamu sedang makan, dan mamamu marah-marah, Arya?” tanyaku. Arya mengangguk semangat. Hampir saja ia tersedak. Buru-buru ia meraih gelas di dekatnya. “Ada saja yang diributkan,” lanjut Arya.
“Kamu masih beruntung, Arya. Daripada aku, ibuku jarang sekali ada di rumah. Sebulan bisa sampai empat kali ke luar kota. Sarapan, pembantu yang menyiapkan.” Temanku yang memang terkenal cukup mapan, Nadira, ikut bergabung.
“Ya, enaklah begitu. Daripada aku, pusing diomelin,” balas Arya, ketus.
“Tapi aku kalau ada apa-apa susah bilang ke Ibu,” jawab Nadira tak mau kalah.
“Lha aku, sudahlah Ummi sering pergi-pergi, jarang memperhatikanku, pula!” Kali ini Zaki ikut-ikutan. Aku sampai melongo melihat pertengkaran mereka yang menurutku tak penting.
“Hei, hei! Kalian kok, jadi bersaing jelek-jelekan ibu, sih?” Akhirnya aku menengahi. “Sudahlah, bagaimana pun ibu kita, beliau tetap orang yang paling menyayangi kita. Seorang ibu akan bangun tengah malam bila anaknya menangis, merintih berdo’a jika anaknya sakit, rela berlapar-lapar asal anaknya kenyang..”
Aku terdiam, tak mampu melanjutkan. Membicarakan ibu selalu membuatku ingin menangis. Kami semua terdiam. Nadira memandangku dengan ekspresi semacam kagum. Aku jadi risih sendiri.
“Ibumu,” kata Zaki sambil menepuk pundakku, “pasti sangat bangga padamu.”
Hatiku mencelos. Andai begitu.. Aku tak pernah yakin, apa Bunda betul-betul bangga padaku.
***
Aku menyukai sekolahku. Aku menyukai teman-temanku. Meskipun aku tidak punya sahabat khusus, tapi aku tak pernah kesepian. Aku berteman dengan semua, tak pernah pilih-pilih. Kata Kak Risa, aku sangat populer di sekolah. Aku sendiri tak pernah merasa begitu.
Satu yang membuat teman-teman heran padaku: aku anak yang cukup pandai dalam pelajaran, dan juga banyak mengetahui hal-hal lainnya, tapi untuk hal sepele yang semua orang tahu, kadang aku tidak tahu. Seperti ketika teman-teman ramai berbicara ‘hujyan, becyek, tak ada ojyek’, aku takjub melihat banyak orang berbicara seperti itu. Padahal tidak sedang musim hujan. Ketika aku bertanya pada teman-teman, mereka menjawab, “Fatih, kami kan, meniru Cinta Laura.” Tapi aku malah bertanya lugu, “Cinta Laura itu sinetron di channel apa, ya?” Gedubrak! Teman-teman menggelengkan kepala tak percaya.
Di lain kesempatan, teman-temanku heboh karena seminggu lagi akan ada ‘de tai ten’ di kotaku. Perayaan apakah ‘de tai ten’ itu? Bahasa Jepangkah? Akhirnya, karena penasaran mendengar teman-temanku membicarakan ‘de tai ten’ aku pu bertanya.
“Kamu tak tahu ‘de tai ten’?” tanya mereka setengah tak percaya. Aku mengangguk. Kalau tahu, aku tak perlu bertanya.
“Kamu tahu Peter Pan?” tanya Hari. Aku berpikir sebentar. Oh, itu kan cerita tentang seorang anak yang tak ingin menjadi dewasa, lalu bertualang di Neverland. Aku mengangguk lagi.
“Nah, setelah mereka bubar, salah seorang personilnya membentuk band sendiri. Itulah sekarang yang dinamai ‘The Titans’.”
Aku melongo. Seperti ada sebuah lonceng besar, dibunyikan tepat di telingaku. Oh, maksudnya ‘Peter Pan’ grup band? Dan ‘de tai ten’ yang kupikir adalah sebuah perayaan Jepang, ternyata nama band juga? Aku jadi merasa bodoh luar biasa. Teman-teman tergelak mendengar ceritaku.
Aku sendiri tak tahu, mengapa aku bisa menjelma menjadi manusia zaman batu, bila membicarakan bintang tivi. Padahal aku bukan jarang menonton. Hanya saja, mungkin Cinta Laura tak pernah tampil di program ‘si Bolang’. The Titan juga tak pernah menjadi bintang tamu di acara televisi ‘Mamah & Aa’.
Teman-teman memang suka bermain ke rumahku, tapi itu pasti karena Bunda. Bunda tak pernah alpa menghidangkan camilan buat teman-teman yang datang ke rumah. (Ya, iyalah! Buat apa yang tidak datang ke rumah diberi camilan juga?)
Oya, sekarang Bunda membuka usaha konveksi dan sudah mampu mempekerjakan orang lain, jadi Bunda tidak harus menjahit sendiri. Aku senang, bisa lebih sering berdiskusi dengan Bunda. Bunda tahu tentang bermacam-macam hal.
Semua ini karena Kak Risa. Salah satu bukunya mengalami cetak ulang berkali-kali. Uang dari royaltinya diberikan kepada Bunda untuk dijadikan modal usaha. Kak Risa juga jadi sering dipanggil untuk menjadi pembicara di seminar-seminar.
Wah, kakakku itu, pokoknya lah!
Sore itu, aku iseng-iseng main ke kamar Kak Risa. Kak Risa sedang sibuk merapikan koleksi bukunya. Jarang sekali aku melihat kamar Kak Risa. Aku baru tahu kalau buku Kak Risa sebanyak itu. Beberapa di antaranya adalah buah penanya sendiri.
“Mana novel Kakak yang kemaren cetak ulang berkali-kali?”tanyaku.
“Bukan novel, tapi kumpulan esai atau cerita non-fiksi,” jawab Kak Risa. “Nih, ‘Hadiah Hati’.” Kak Risa mengambil sebuah buku bersampul corak putih dan biru.
“Tentang apa, Kak?” tanyaku sambil membolak-balik buku yang di depannya terdapat gambar sebuah pita bertuliskan ‘Best Seller’.
Kak Risa menoleh padaku dengan ekspresi malas. “Mau tahu? Baca sendiri, ya?” katanya. Aku manyun. “Mengapa Kak Risa senang menulis?” Lagi-lagi aku bertanya. Duh, aku ini iseng sekali, ya, bertanya terus. Padahal Kak Risa itu sedang sibuk menyusun buku-buku. Tapi kali ini Kak Risa menghentikan kesibukannya. Matanya memandangku lurus. Sebelum menjawab, Kak Risa melepas dan membersihkan kacamatanya. Kacamata ini baru dua bulan bertengger di hidung Kak Risa.
“Dengan menulis, kita bisa menguasai dunia.”
***
Pernah di suatu malam, lewat tengah malam, aku terbangun karena ingin buang air. Ketika akan kembali ke kamar, aku mendengar suara Bunda dan Kak Risa bercakap-cakap di ruang depan. Aku mengucek mata dan melihat jam dinding. Jam dua lewat. Bunda dan Kak Risa belum tidur?
“Risa setuju, kalau Dek Fatih disekolahkan ke pesantren.” Hah? Pesantren?
“Begitukah? Bunda sendiri masih bimbang. Rasanya Fatih masih terlalu kecil.”
“Ah, di mata Bunda memang semua anak Bunda akan selalu terlihat masih kecil,” jawab kakakku sambil tertawa kecil. Bunda juga ikut tertawa.
“Apa kira-kira Fatih mau?” Bunda terdengar masih ragu.
“Fatih itu cepat mengerti. Kalau diajak bicara pelan-pelan, insya Allah mau.”
“Tapi, Kak,” Bunda menyela. Bunda memang kadang memanggil Kak Risa dan aku dengan sebutan ‘kak’, untuk membiasakan kepada yang lebih muda. “Yang paling Bunda pikirkan adalah kuliahnya Kak Risa.”
Hoahm.. Ups! Aku cepat-cepat menutup mulut dan beristighfar. Kata Pak Guru, kalau kita menguap dan berbunyi ‘hoahm’ seperti aku tadi, itu artinya ada setan yang masuk dan tertawa di perut kita. Hiiy..! Sudahlah, aku mau kembali tidur. Aku tak tahu lagi apa kelanjutan pembicaraan Kak Risa dengan Bunda itu.
***
Farisa al-‘Izzah. Rasanya aku perlu bercerita sedikit tentang kakak sulungku yang berselisih tujuh tahun denganku itu. Mungkin kalian agak bingung. Kadang bicaranya seperti nenek-nenek, sok tua, padahal baru lulus SMA. Tapi di mataku Kak Risa itu memang sangat dewasa dan mengagumkan.
Kak Risa tidak seperti remaja kebanyakan. Oh, zaman sekarang ini, jangankan anak SMA, anak SD saja sudah banyak yang bertingkah macam-macam. Tapi Kak Risa tidak pernah membuat masalah. Sejak aku sudah bisa mengingat, Kak Risa sudah menjadi anak yang bisa diandalkan Ayah Bunda. Tak hanya di sekolah Kak Risa menjadi bintang, tapi juga di lingkungan rumah kami. Ramah dan suka menolong. Rasa-rasanya, aku tak bisa membayangkan ada orang yang tidak menyukai Kak Risa.
Kalau ada orang yang mencari yang namanya Farisa al-‘Izzah, biasanya orang akan menjawab, “Itu, yang pakai jilbab. Orangnya cantik, suka tersenyum dan ada lesung pipinya.” Ya, Kak Risa memang cantik. Matanya bening dan membuat kita merasa sejuk melihatnya. Giginya rapi dan bersih. Tubuhnya semampai. Dan di balik kelembutan yang diperlihatkannya, Kak Risa menyimpan ketangguhan seorang atlet taekwondo, peraih medali perak dalam PON. Tapi bukan itu saja yang membuatnya terlihat cantik. Melainkan juga sifatnya yang peka, pembawaannya yang tenang dan bijaksana. Apa hanya perasaanku saja, karena aku jauh lebih muda? Tapi itulah yang kurasakan. Sampai-sampai, waktu aku kelas empat SD, aku pernah berkata polos,
“Fatih suka sama Kak Risa, karena Kak Risa bisa bertindak dengan cepat.”
“Oh, ya? Contohnya?” tanya Kak Risa sambil tersenyum geli.
“Iya, waktu Fatih sakit, Kak Risa menyediakan semua kebutuhan Fatih tanpa sempat Fatih minta..”
Aku sudah pernah cerita, kan, Kak Risa tak pernah tergeser sedikit pun dari peringkat satu sejak SD sampai lulus SMA. Tapi teman-temannya tak ada yang merasa iri dan benci. Sebab Kak Risa meraih semua itu bukan dengan ‘sistem kebut semalam’, apalagi dengan ‘sistem santai selalu’ seperti yang biasa kulakukan sampai kelas lima SD. Kak Risa itu sangat tekun. Dan seperti yang pernah Kak Risa sendiri bilang, Kak Risa tak pernah mengejar target juara satu, apalagi sekedar deretan nilai di atas kertas. Sekolah bagi Kak Risa adalah betul-betul untuk menuntut ilmu. Menuntut, bukan sekedar menunggu dikasih.
Nah, itu dia, bagian yang paling unik dan kusukai dari Kak Risa. Pemikirannya. Kak Risa selalu melakukan sesuatu dengan berpikir terlebih dahulu. Sampai-sampai kadang aku khawatir, Kak Risa akan cepat botak, karena terlalu banyak berpikir. Sering sekali Kak Risa berlaku yang tidak seperti orang kebanyakan. Dan saat kutanyakan, Kak Risa malah menjawab,
“Yang banyak itu belum tentu benar.”
Kalau orang lain pada senang nonton televisi, Kak Risa malah mengeluh pusing kepalanya jika menonton tivi lebih dari satu jam, tapi betah berjam-jam melototin buku. Kalau teman-temannya senang berjalan-jalan keluar rumah, keliling-keliling tak tentu, Kak Risa lebih senang di rumah, membantu Bunda. Tapi Kak Risa bukan anak yang kurang pergaulan. Sebaliknya, Kak Risa sangat aktif di organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler.
Itulah, Kak Risa selalu melakukan segalanya dengan seimbang. Kak Risa bukan seperti orang kutu buku yang bergulat dengan buku berjam-jam sampai lupa makan dan tidur. Kak Risa bukan gadis pingitan yang selalu berdiam di rumah, seolah kalau terkena sinar matahari bisa meleleh. Kak Risa juga tak pernah terlalu sibuk belajar sampai melupakan teman-temannya. Dan ketika Kak Risa memegang prinsip, tak pernah mencela cara hidup orang lain.
Puncak keanehan Kak Risa adalah ketika Kak Risa memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah selepas SMA. Semua orang terkaget, tapi tak ada yang berani protes. Sebab semua juga tahu, keputusan Kak Risa bukan keputusan yang diucapkan seenaknya, dan Kak Risa selalu bertanggung jawab atas semua keputusan yang dibuat. Tapi kali ini, siapa yang bisa mengerti, Kak Risa membuang kesempatan emas: mendapat beasiswa kuliah penuh, bahkan diberi uang saku, tapi Kak Risa malah memutuskan untuk tidak kuliah? Alasan apa yang bisa menjelaskan?
“Risa ingin menulis saja, Bunda.” Itu jawaban kakakku kepada Bunda. Bunda sendiri dari awal tak pernah memaksa. “Kalau memang tak ingin, ya, tak usah.” Begitu prinsip Bunda.
Tapi jawaban Kak Risa kepada teman-temannya lain lagi. “Kasihan, nanti bundaku kesepian, apalagi Fatih mau bersekolah di pesantren. Mungkin tahun depan saja kuliahnya.”
Dan ketika kutanya, Kak Risa menjawab lain lagi. “Sayang uangnya, buat Fatih kuliah saja.” Tapi sedetik kemudian Kak Risa tertawa. “Mukanya tak usah seperti orang bersalah seperti itu!” Tapi aku sungguh-sungguh merasa bersalah. Oh, jadi Kak Risa tak mau kuliah karena aku? Karena aku harus ke pesantren, sehingga Kak Risa tak bisa meninggalkan rumah? Karena menabung uang untukku kuliah?
“Banyak alasan, Dek.” Kak Risa meraih kedua tanganku dan mendudukkanku di depannya. “Fatih pasti bingung, karena Kak Risa selalu memberi alasan yang berbeda pada orang-orang?” Aku mengangguk dengan muka bingung. Iya juga, ya?
“Kak Risa punya banyak alasan, tapi semua orang merasa cukup hanya dengan mendengar salah satunya. Kalau Fatih, mau mendengar salah satu juga atau mau tahu semuanya?”
“Mau tahu semuanya!” Aku menjawab cepat. “Kamu memang selalu mau tahu.” Kak Risa mencubit pipiku gemas. Aku meringis.
“Kak Risa mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan swasta atas dasar prestasi dan latar belakang ekonomi keluarga. Sedangkan Kak Risa merasa, kita tak miskin-miskin amat. Ada teman Kakak, prestasinya cukup bagus juga, dan kondisi keluarganya lebih menyedihkan. Dia anak ketiga dari sembilan bersaudara. Adiknya masih kecil-kecil. Sudahlah, tak perlu Kakak ceritakan detilnya. Intinya, akhirnya Kakak memutuskan untuk memberikan jatah Kakak kepadanya. Tapi keputusan itu juga didorong oleh keinginan Kakak untuk terus menulis. Selain itu, kalau dengan Kakak tinggal di rumah, Fatih bisa tenang pergi ke pesantren, bukankah lebih baik begitu? Tidak ada kaitannya dengan uang. Kan Kak Risa dapat beasiswa penuh..”
“Jadi tadi Kak Risa hanya iseng saja, menjawab, ‘sayang uangnya, buat Fatih kuliah saja’?” Aku menirukan perkataan Kak Risa dengan ekspresi lucu, sehingga membuat Kak Risa terkikik. “Yah, tidak juga. Kakak memang menabung buat Fatih…”
***
“Kak Fatih!!”
Aku tersentak kaget. Fathina menarik ujung bajuku dengan jengkel. “Dari tadi dipanggil..,” katanya merengut.
“Dipanggil? Sama siapa?” Aku bertanya bingung.
“Sama Fathina!” Oo.. Aku menggaruk-garuk kepala, salah tingkah. “Fathina mau tanya, ini bagaimana bacanya?” Aku menjelaskan sekadarnya. Entah Fathina mengerti atau tidak. Tapi tampaknya dia mengerti, sebab setelah itu ia kembali sibuk tenggelam dalam buku bacaannya.
“Hayo, Fatih, melamunkan apa?” Kak Risa tiba-tiba muncul dengan senyum jenaka. Aku ikut tersenyum. Tapi lalu menghela napas. “Ada apa?” tanya Kak Risa yang rupanya memperhatikan raut mukaku. “Ini tanggal berapa, Kak?” tanyaku. “Enam belas Maret,” jawab Kak Risa dengan bingung. “Kak Risa ingat, tahun lalu, tepat tanggal seperti ini, terjadi kecelakaan di depan tempat les Fatih?”
Aku bisa melihat ekspresi kakakku yang seketika berubah. Sebenarnya aku tak ingin mengingat-ingat peristiwa itu, namun ada bagian yang sangat membekas di pikiranku.
Untuk menyeimbangkan kesibukanku dalam berkegiatan, yang kadang mengakibatkan aku ketinggalan pelajaran, Bunda mengikutkanku les mata pelajaran di sebuah lembaga pendidikan yang sudah ternama. Karena letaknya yang tak terlalu jauh dari rumah, aku biasa berangkat sendiri, naik sepeda.
Aku paling rajin datang les. Sebab di tempat ini aku bisa bertemu teman-teman baru, selain dari teman-teman sekolahku. Salah satu teman yang cukup akrab denganku adalah Angga. Dia anak yang sangat kocak dan aktif. Rumahnya dekat saja dari tempat les, sehingga ia biasa jalan kaki pulang pergi.
Sebenarnya kalau waktu itu ia berjalan biasa saja, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi waktu itu ia mengejar layangan. Sudah kubilang, ia memang anak yang aktif. Guru les kami belum membubarkan kelas, ia sudah berlari keluar, karena ada layang-layang putus, terbang melintas. Sebuah bis kota yang melaju kencang akhirnya tak sempat menghentikan jalannya ketika Angga tiba-tiba berlari menyeberangi jalan. Jalanan di depan situ memang menurun, sulit bagi kendaraan untuk mengerem mendadak.
Aku tak ingat pasti, apa yang terjadi selanjutnya. Seluruh anggota tubuhku serasa terlepas satu-satu. Aku tak percaya. Teman yang baru saja, baruuu saja, duduk di sampingku dengan candaannya yang khas, kini tergeletak di tengah jalan. Selintas kudengar dari orang-orang, tulang kakinya remuk. Yang membuatku paling merasa terpukul adalah, aku yang memberitahukan tentang layangan putus itu kepadanya!
Aku terpaku di tempat entah berapa lama. Aku tak sanggup melihat dekat-dekat. Tiba-tiba kudengar suara seorang wanita berteriak histeris, “Fatih!! Fatih!” Begitu melihatku, Bunda langsung memelukku erat-erat. Aku belum pernah melihat Bunda dalam keadaan sangat emosional seperti itu.
“Bunda… Fatih yang memberitahukan.. ada layangan putus… Kalau Fatih tidak.. bilang, mungkin…” Suaraku terputus-putus, menahan isak tangis
Bunda menggeleng tegas. “Tidak, Fatih. Tidak ada yang salah dengan takdir Allah.” Masih memelukku, Bunda berkata pelan di telingaku, “Tadi orang-orang ramai berteriak, ada kecelakaan di depan tempat les Fatih. Pikiran Bunda langsung tertuju pada Fatih seorang. Tanpa pikir panjang, Bunda berlari keluar rumah, tak berhenti berdo’a ‘Ya Allah, anakku.. Ya Allah, anakku..’.”
Aku sungguh terharu mendengarnya. Sebegitu sayangnya kah, Bunda padaku? Aku melirik ke bawah. Bunda tak mengenakan alas kaki.
Bagian itulah yang tak ingin kulupakan. Kalau suatu hari aku merasa marah pada Bunda, menganggap Bunda tak sayang padaku, aku akan mengingat kejadian itu, dan percaya sepenuhnya: di dunia ini, tak ada manusia yang menyayangiku melebihi Bunda. Kak Risa mengelus kepalaku. Entah mengapa, Kak Risa itu seperti bisa melihat apa yang ada di pikiranku. Mungkin karena sudah mengenalku dari kecil, bahkan Kak Risa yang merawatku –di samping Bunda-, Kak Risa menjadi sangat mengenalku, dan sudah bisa menerka pikiran dan tindakanku. Bahkan mungkin Kak Risa tahu, bagian mana yang menjadi tujuanku mengingat-ingat.
Namun tentu kalau mengingat itu, otomatis aku teringat pada Angga. Apalagi hari ini, tepat setahun kejadian itu berlalu. Sepekan dirawat di rumah sakit, Angga meninggal. Karena yang menabraknya adalah bis kota, pemerintah kota menanggung segala biaya sampai Angga boleh keluar dari rumah sakit. Aku kadang berpikir, seandainya waktu itu Angga menunggu sampai kelas dibubarkan, mungkin bi situ telah lewat. Hanya selisih sepersekian detik, dan dampaknya sangat besar.
Kematian Ayah, lalu Angga, telah memberiku suatu pelajaran yang tak terkira. Rasanya memang sudah seharusnya, orang yang pernah menyaksikan kematian, akan lebih lunak hatinya. Selain membuatku semakin menyayangi Bunda, aku juga sadar, aku tak bisa banyak bermain-main di dunia ini.
***
“Bunda, kemaren Fatih ikut kemping.” Aku memulai cerita pada Bunda lewat telepon. Bunda sedang menghadiri acara pernikahan sepupunya, di luar kota. “Kemping di mana, Sayang? Kok Fatih tidak bilang dulu sama Bunda?”
Aku lupa! Iya, aku baru ingat sekarang, aku belum bilang Bunda. Tapi tadinya aku mau cerita bahwa aku memenangkan pemilihan peserta kemping terbaik. Sekarang aku jadi tak begitu semangat bercerita.
“Di Bumi Tenda yang dekat SMAN 8 itu, Bunda.” Aku menjawab malas-malasan.
“Sama siapa?”
“Ada acara pengisi liburan untuk anak kelas lima dan enam SD, Fatih ikut saja.”
“Oh, begitu. Ya sudah, ya, Nak. Bunda mau istirahat dulu. Sebentar lagi Bunda berangkat. Insya Allah sore Bunda sudah di rumah. Sayang Bunda, rindu Bunda untuk semua…” Bunda menutup telepon setelah mengucap salam.
Aku menghela napas panjang. Kesal. Padahal kubayangkan Bunda akan mendengar ceritaku dan merasa bangga pada anaknya. Acara kemping ini bernama InCa. Singkatan dari.. aduh, apa, ya? Semacam ‘Integrated’ gitu, deh. Atau, ‘Ingredient’? Hehe, itu sih, yang biasa ada di belakang bungkus makanan. Yah, pokoknya ‘Ca’nya itu ‘Camping’.
Kemping yang diadakan selama tiga malam ini dipadati dengan berbagai kegiatan. Lintas alam, unjuk bakat, pelatihan menulis dan membaca cepat, dan masih banyak lagi. Di akhir acara, diadakan pemilihan peserta terbaik. Sebutannya ‘Treasure of InCa’, harta karun InCa. Wow! Jadi, peserta terbaik itu ibarat harta karun yang selalu diburu oleh semua orang.
Nah, proses pemilihan ‘Treasure of InCa’ ini lumayan panjang. Sebenarnya dari hari pertama kakak-kakak panitia sudah memperhatikan dan menilai kami. Lalu diam-diam, setiap peserta akan diuji dengan suatu kejadian. Kalau aku waktu itu, seorang kakak panitia membawaku berjalan-jalan berdua, jauh dari perkemahan, lalu tiba-tiba kakak itu mengerang, berpura-pura kakinya keseleo. Reaksi kita akan dilihat. Apakah panik atau tidak, bagaimana mengambil keputusan yang cepat dan tepat, dan sebagainya.
Aku tidak tahu, apa lagi cara yang ditempuh untuk menentukan si Harta Karun InCa. Tapi yang pasti, puncaknya, di malam terakhir, kami disuruh maju satu per satu, mengambil sebuah kertas yang digulung dan disimpan di dalam toples, lalu berbicara apa saja tentang kata yang ada di kertas itu.
Peserta lain semua hebat-hebat dan unik-unik. Ada yang berbicara dengan berapi-api. Ada yang lemah lembut. Ada yang sambil cengengesan sendiri. (Hehe.. Lucu juga, anak itu. Kalau tidak salah, namanya Andre) Aku sendiri tak tahu harus berbicara apa.
Kertas di tanganku bertuliskan ‘Hal yang paling berharga bagimu’. Apa yang paling berharga bagiku? Komputerku? Playstation? Apa, ya? Teman-teman? Piala-pialaku? Ketika giliranku, aku memutuskan untuk membacakan dulu tema yang harus kubawakan.
“Hal yang paling berharga bagiku.” Aku menarik napas, gugup. “Kalau teman-teman yang ditanya seperti ini, akan kalian jawab apa?” Sebenarnya pertanyaan itu untuk diriku sendiri. Aku memandang ke penonton dengan gelisah. Lalu tiba-tiba, aku tahu harus berbicara apa.
“Teman-teman… Aku punya pelangi, yang hadir dari hangat mentari , berpadu kesejukan hujan. Aku punya pelangi. Menenteramkan hati yang melihatnya. Pelangiku tak pernah pudar. Senyumnya memberi warna pada jiwa. Pelangi itu.. adalah Bunda!”
Ketika aku berbicara seperti itu di atas panggung, aku tak lagi grogi memikirkan penonton, aku tak cemas memikirkan kekalahan, aku hanya melihat wajah Bunda yang tersenyum. Lalu aku menyuarakan apa yang kurasakan.
Tanpa kuduga, kalimat-kalimat singkat yang kuucapkan itu justru membuatku terpilih menjadi peserta terbaik. Aku mendapat sebuah piala perak berbentuk seorang anak laki-laki mengacungkan pedang ke atas. Piala yang sangat bagus, menurutku.
Nah, sekarang kalian bisa membayangkan perasaanku? Aku mendapat sebuah piala, yang tak lain adalah karena aku mengingat Bunda. Karena aku menyayangi Bunda. Aku keluarkan apa yang kubisa untuk menggambarkan betapa berartinya Bunda untukku. Tapi ketika aku mau menceritakan hal itu, Bunda malah tak mau mendengar.
Aku membayangkan, ketika aku bercerita pada Bunda bahwa aku meraih piala peserta terbaik karena seuntai kalimat, Bunda akan bertanya penasaran, “Boleh Bunda tahu, Fatih berbicara tentang apa?” Lalu aku akan bersikap sok rahasia, tapi tak kuat menyimpan rahasia. Akhirnya dengan tersipu-sipu aku akan menjawab, “Tema yang Fatih dapat adalah ‘Hal yang paling berharga’.”
“Lantas, Fatih jawab apa?” tanya Bunda dalam khayalanku. Bunda begitu penasaran, apa yang diucapkan putra semata wayangnya ini. “Pelangi,” jawabku, yang pastinya akan menimbulkan raut bingung di wajah Bunda. “Fatih kan, punya pelangi. Yang selalu cerah warnanya, yang membuat jiwa Fatih selalu tersenyum. Pelangi, yang membuat semua orang tenang melihatnya. Dan pelangi itu, adalah Bunda!” Lalu Bunda akan terharu hingga menitikkan air mata.
Sekali lagi, itu semua hanya dalam khayalanku saja.
***
Aku baru pulang sholat Ashar hari itu, dan bersiap pergi mengaji, ketika terjadi sesuatu yang tak pernah kubayangkan akan terjadi di rumah ini, padaku. Sebelum masuk kamar, aku sempat melihat Kak Risa sedang ribut dengan Fathina di ruang depan. Adik bungsu yang satu itu sangat berbeda dengan kami berdua, cerewet. Ini bukan yang pertama kalinya Kak Risa pusing mendiamkan Fathina. Fathina juga senang berlari ke sana ke mari. Badannya yang mungil mungkin mungkin membuatnya merasa ringan.
Tiba-tiba terdengar suara barang berjatuhan yang sangat gaduh. Seperti ada yang pecah. Tepatnya, seperti banyak yang pecah. Aku menelan ludah, tak sanggup membayangkan apa yang terjadi. Aku tak ingin melihat. Tapi emosi dan penasaran yang sangat akhirnya membuatku keluar.
Yang kulihat di ruang depan adalah, Fathina sedang menggigiti kuku jari tangan kanannya dan tangan kirinya memegang sapu; Kak Risa terdiam kaku, seperti ingin meraih Fathina tapi belum sampai; dan rak depan yang bersih. Bersih dari empat buah pialaku yang kusimpan di sana. Bersih dari empat buah piala yang sekarang sudah patah, terbelah, dan berserakan di lantai. Salah satunya adalah piala ‘Treasure of InCa’.
Aku terdiam, tak melanjutkan langkah. Fathina diam menunduk. Kak Risa juga diam, tak langsung sigap seperti biasanya. Lalu yang terjadi selanjutnya, sebuah pintu dibanting, menimbulkan suara berdebam keras. Pintu kamarku. Aku tak peduli. Baju-bajuku yang digantung sampai berjatuhan. Aku duduk menekuk lutut, menempel di belakang pintu, mengganjal agar tak ada yang bisa masuk. Saat seperti ini, aku jadi kesal, mengapa kamarku tak diberi kunci.
Kutenggelamkan muka ke lutut. Aku ingin menangis, melihat pialaku -piala-piala yang paling penting sehingga kupisahkan dari yang lain-, hancur tak berbentuk. Tapi ternyata rasa marah lebih menguasaiku ketimbang sedih. Awalnya aku marah pada Fathina yang nakal dan suka berlarian di rumah. Menyenggol barang sana sini, mengganggu Kak Risa, hingga akhirnya mengakibatkan pialaku terjatuh dan patah. Tapi lalu aku melemparkan kesalahan pada Kak Risa. Mengapa juga, Kak Risa harus meladeni anak kecil seperti Dek Fathina? Kalau Kak Risa tidak sibuk mengejar-ngejar, pasti Fathina tidak lari.
Hee.. Aku ngarang juga, sih, kejadiannya. Melihat posisi seperti tadi, aku membayangkan, Fathina mengganggu Kak Risa yang sedang menyapu, lalu Kak Risa ingin merebut sapu dari Fathina. Fathina kalau dikejar malah tambah senang bercampur histeris. Nah, berhubung sapunya lebih tinggi dari yang membawa, jadinya sempoyongan, dan akhirnya, menyenggol piala-piala yang dijejerkan di rak depan.
“Dek..” Kak Risa mengetuk pintu kamarku. Aku malah semakin menenggelamkan kepala, seolah takut terlihat oleh Kak Risa. “Kakak minta maaf, Dek,” bujuk Kak Risa lembut. Tapi minta maaf pun, apa bisa merubah yang telah terjadi? Aku tidak tahu, apa yang akan Kak Risa lakukan dengan piala-pialaku yang rusak. Salah satu dari empat piala itu dihiasi dengan batu marmer, tak bisa diperbaiki lagi karena telah hancur berkeping-keping. Aku mendengus kesal.
Tapi sedetik kemudian pikiranku meloncat.
Piala ‘Treasure of InCa’ patah! Piala yang paling kusukai. Piala yang bagiku, gambaran cintaku pada Bunda. Ah, memang sudah seharusnya piala itu patah, pikirku skeptis. Mungkin dari awal lebih baik bila aku tak pernah mendapatkannya. Piala yang tak dihargai oleh Bunda. Iya! Seharusnya dari dulu aku tak perlu bersusah payah membuat Bunda bangga. Toh, aku berprestasi atau pun tidak, tak ada bedanya bagi Bunda.
Dadaku mulai sesak, dan di tenggorokanku terasa ada yang menyangkut.
Padahal anak-anak lain sering berkomentar iri bila melihat raporku. Mulai dari “Enak, ya, Fatih selalu rangking satu, pasti jadi anak kesayangan.” atau “Kalau aku, bisa masuk sepuluh besar saja, akan dibelikan sepeda baru.” dan “Wah, Fatih, kalau aku dapat nilai sebagus ini, orangtuaku akan membelikan yang aku minta.” Hatiku selalu perih setiap ada yang berkata seperti itu. Sebab nyatanya, Bunda melihat raporku dengan ekspresi biasa-biasa saja, bagai tak ada artinya. Seperti orang yang melirik judul berita utama di penjual Koran. Aku tak menuntut dibelikan hadiah, tapi setidaknya Bunda bisa menunjukkan reaksi yang membuatku merasa telah melakukan sesuatu yang hebat dan berarti.
Badanku mulai tergoncang. Napasku memburu.
Aku mengingat-ingat, selama ini kalau aku mengikuti kegiatan ataupun lomba, Bunda tak pernah mau tahu. Alasan saja, Bunda bilang sibuk. Memang sih, kalau aku menang, Bunda akan mencium kepalaku sambil berkata, “Juara satu, Nak?” Tapi sebatas itu saja. Ketika aku bilang akan mengikuti suatu perlombaan, Bunda cuma akan menjawab, “Ikutilah, kalau Fatih rasa bisa ikut.” Jadi kadang-kadang aku tak bilang pada Bunda jika ada perlombaan.
Bunda, egoiskah aku, kalau sering memenangi lomba, tidak memberi kesempatan kepada peserta lain, demi Bunda? Salahkah aku, kalau pontang-panting mengejar pelajaran karena sibuk di kegiatan, agar Bunda tidak merasa sia-sia punya anak aku? Apa tidak seharusnya, aku mendapatkan piala untuk sebuah senyum bangga di wajah Bunda? Aku seperti anak lainnya, Bunda. Ingin membuat orangtua bangga. Ingin agar orangtua bisa bercerita kepada teman-temannya tentang anak mereka dengan senang dan menggebu-gebu. Aku ingin membuat Bunda bangga. Itu saja. Aku ingin membuat Bunda bahagia sampai menangis.
Kali ini, aku yang menangis. Sungguh-sungguh menangis.
***
Sayup-sayup kudengar suara Bunda. Aku membuka mata. Aku tertidur, rupanya. Jam berapa sekarang? Astaghfirullah, setengah tujuh?! Syukurnya aku langsung sadar, ini bukan setengah tujuh pagi, melainkan malam. Kalian pernah mengalami, ketika bangun tidur, terasa linglung dan bingung? Kadang-kadang ada yang sampai mengenakan seragam, bersiap ke sekolah, padahal hari menjelang malam. Hahaha… Begitulah bila tidur habis Ashar. Aku belajar di sekolah, waktu tidur yang tak bagus itu ada tiga, setelah sholat Subuh, Ashar, dan Maghrib. Bisa mengurangi kecerdasan dan menghilangkan akal. Bahasa gampangnya, bikin gila!
Tapi aku jarang-jarang, loh, tidur sore seperti ini. Mungkin karena kelelahan, habis menangis. Cepat-cepat aku mengambil air wudhu’ dan sholat Maghrib. Selesai sholat, aku masih bertahan tak mau keluar, meskipun perutku mulai merengek, minta diisi. Dari dalam kamar, aku bisa mendengar Bunda menanyakanku dan dijawab oleh Kak Risa, “Fatih marah, Bunda, pialanya tersenggol dan patah.” Kak Risa sok tahu! Aku kan, marahnya bukan karena itu, melainkan karena Bunda yang tak peduli.
“Semuanya?” tanya Bunda terkejut.
“Yang di rak ruang depan saja. Tapi yang ada di situ adalah piala kesayangannya Fatih.”
Huh, Kak Risa bilang begitu pun, apa peduli Bunda? Aku jadi ingin melanjutkan aksi mogok keluar kamar sampai besok. Syukur, besok libur. Selimut dan bantal kubawa ke depan pintu, lalu aku berbaring menahan pintu.
“Fatih..” Suara Bunda, di depan pintu. Aku menutup mukaku dengan bantal. Tapi aku belum ingin tidur. Selain karena baru bangun, aku juga belum sholat ‘Isya. Kutumpukkan buku-buku kesukaanku di sampingku untuk menjadi pengantar tidur. Setelah dua buku dan tiga komik habis, aku pun terlelap.
Bunda terlihat sangat sedih ketika besok paginya aku telah keluar kamar, namun tak berbicara sepatah kata pun. Bunda sudah berusaha mengajakku berbicara, begitu juga Kak Risa dan Fathina, tapi semua kuacuhkan. Sebenarnya aku sungguh merasa bersalah, telah mendiamkan Bunda dan saudara-saudaraku. Namun aku masih perlu waktu untuk berpikir jernih.
***
Aku menatap bapak di depanku itu dengan penuh kekaguman. Pak Ridwan. Beliau adalah guru Tahfizh di sekolahku. Bapak ini wajahnya teduh sekali, membuatku betah berbincang-bincang lama dengan Beliau. Kelihatannya Beliau juga tak keberatan berdiskusi denganku.
Pak Ridwan hafal al-Qur’an. Bayangkan, satu al-Qur’an yang segitu tebalnya, ia hafal seluruhnya?! Selain itu, aku juga terkagum-kagum pada kebijakannya yang selalu mampu menenangkan kerusuhan hatiku.
“Pak, apa membuat orangtua bangga juga termasuk bakti?” Pertanyaanku membuka dialog serius sore itu. Rumah Pak Ridwan terletak di ujung jalan rumahku, jadi aku sering bermain ke rumah Beliau. Tapi kali ini kami sedang berjalan-jalan di taman. Pak Ridwan tersenyum padaku, lalu mengangguk. Pak Ridwan adalah orang yang sangat jarang bicara. Namun sekali berbicara, penuh makna dan manfaat. Sekali Pak Ridwan membuka mulut, semua orang akan terdiam, meresapi perkataan Pak Ridwan. Pak Ridwan berbicara dengan pelan-pelan dan sangat jelas.
“Namun yang perlu Fatih pahami, orangtua bisa bangga pada anaknya hanya dengan kebagusan akhlak sang anak.”
Aku tertohok. Pak Ridwan bagai menyindirku. “Bapak sendiri, sangat bangga pada anak Bapak yang pertama, juga yang ketiga.” Anak Pak Ridwan yang pertama memang cukup pintar. NEM SMP-nya terbaik di kota kami. Yang kedua meninggal ketika baru berusia dua tahun. Tapi yang ketiga? Anak Pak Ridwan yang ini sekarang duduk di kelas lima SD. Memang dia anak yang ramah dan menyenangkan, tapi prestasi apa yang bisa diraih oleh orang bisu?
“Mungkin orang hanya melihatnya sebagai anak yang cacat.,” kata Pak Ridwan dengan nada sedih. “ Tapi bagi Bapak, ia seorang yang berjiwa besar. Tak pernah minder dengan kekurangannya, apalagi sampai menyalahkan orang lain. Dan itu adalah prestasi yang sangat luar biasa.”
Pak Ridwan tak berbicara padaku. Beliau menatap langit, menerawang. Tapi setiap kata yang diucapkan Pak Ridwan seolah ingin memberiku sebuah pelaajaran.
“Jadi, Pak,” kataku tiba-tiba. “Kalau membuat orangtua sedih, itu termasuk perbuatan durhaka?”
“Orangtua akan selalu bersedih, sesedikit apapun kemalangan menimpa anaknya. Lantas, apa Fatih tega, jika orangtua Fatih menangis tak henti-henti, memikirkan anaknya, hingga tak mempedulikan dirinya?”
Dengan beralasan aku harus segera mandi sore, aku mengucap terima kasih dan berpamitan pada Pak Ridwan. Kuayunkan langkah cepat-cepat menuju rumah. Bunda!
Di rumah, Bunda terlihat sangat senang ketika aku menyalimi Beliau. Ya Allah, sampai hatinya aku melukai perasaan Bunda? Ck, rasanya aku jadi malu sendiri telah bertingkah sangat kekanakan kemarin. Kusambar handuk dan mandi cepat-cepat.
Aku selesai mandi, di teras telah terhidang teh hangat dan pisang goreng. Kami memang biasa duduk-duduk minum teh di sore hari. Kak Risa senyum-senyum saja melihatku ikut bergabung.
“Fatih, ikut Bunda jalan-jalan, yuk!” ajak Bunda.
“Ke mana, Bun?”
“Ikut saja.”
“Fathina ikut!” tukas adikku cepat. Memang anak yang tak bisa diam. Dia seperti bola bekel yang terus memantul. Aku jamin, di mobil pun ia takkan bisa duduk diam lebih dari satu menit, kecuali bila tertidur.
Ketika masuk ke jalan kecil yang tak kukenal, Bunda melambatkan mobilnya. Tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian kumal dan compang-camping ke arah kami. Melihat kondisi tubuhnya, aku rasa, Bapak ini bukan sekedar gembel, ataupun pengemis. Bapak ini adalah orang gila!
“Bunda, ada orang gila!” teriak adikku, takut bercampur senang. Loh, ketemu orang gila, kok malah senang, ya? Tapi Bunda seolah tak mendengar teriakan Dek Fathina. Ditatapnya bapak itu dengan muka sendu. Tak kusangka, bapak itu malah menghampiri mobil Bunda.
“Kembalikan Oscar-ku! Kamu pencuri!” teriak laki-laki itu kepada Bunda. Bunda terpaksa menghentikan mobil. Aku heran. Siapa laki-laki ini? Apa dia mengenal Bunda? Tapi belum habis keherananku, laki-laki itu melanjutkan drama yang ia gelar sendiri.
“Kamu jangan pergi, Rosa.. Aku janji akan membelikanmu kalung mutiara. Kubawa kamu berlibur ke Hawaii. Iya, aku akan berusaha, Rosa. Jangan pergi..” Laki-laki itu meratap menimbulkan rasa iba. Fathina sampai ternganga melihat pertunjukkan dadakan itu. Lalu sedetik kemudian, ia berteriak gembira, “Ya! Aku juara! Aku memang hebat!” Sambil mengangkat tangannya ke atas, seolah sedang memegang piala.
Setelah menonton berbagai macam ekspresi yang berganti dengan sangat cepat, Bunda melanjutkan perjalanan. Aku mengernyit ketika melihat laki-laki itu menempelkan badannya ke pintu mobil, seperti tak membolehkan kami pergi.
“Bunda, mobilnya! Nanti kotor,” kata Fathina sambil menggerakkan badan gelisah. Bunda tersenyum melihat polah adikku itu. Laki-laki itu bisa menjadi aktor yang sangat hebat. Ketika sedih, ia betul-betul menitikkan air mata. Ketika ia marah, kami ketakutan. Dan bila ia bergembira, hati rasanya ikut gembira melihatnya.
Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah rumah yang tak terlalu besar. Bunda turun dari mobil, kami mengikuti. “Rumah siapa, Bunda?” tanya Fathina. Bunda masih saja tak menjawab. Pintu rumahnya terbuka. Bunda melangkah masuk. Kami berdua heran. Ini rumah siapa, orangnya ke mana, kok, Bunda langsung masuk begitu saja?
“Rumah ini sudah lama tak berpenghuni.” Bunda mulai menjelaskan. Kami melihat-lihat dengan takjub. Rumah itu dipenuhi piala! Mulai dari yang kedil, hingga yang besar dan tinggi. Mungkin jumlahnya lebih banyak dari yang ada di sekolahku. Aku menghitung dengan susah payah, lalu akhirnya menyerah dan beralih ke piagam-piagam yang digantung di dinding. Ada sekitar sepuluh piagam penghargaan dengan nama yang sama. Piagam yang digantung bukan piagam asal-asalan, namun skala nasional hingga internasional.
“Memang dari awal, pemiliknya seperti mengkhususkan rumah ini untuk tempat menyimpan piala dan penghargaan yang diterimanya. Kadang ia tinggal di sini, tapi lebih sering bepergian, atau tinggal di rumah-rumahnya yang lain.”
Aku baru tahu, kalau ada orang seperti itu. Tapi orang ini pasti sangat hebat. Pialanya bermacam-macam. Kelihatannya ia mahir dalam berbagai bidang. Di antara pialanya, ada beberapa yang sempat kubaca. Juara 2 turnamen golf se-kota, juara 1 kompetisi piano, medali perunggu PON cabang atletik, lalu basket, Olimpiade Kimia, catur, dan entah apa lagi. Multi talenta.
“Lihat, nih, Kak, yang ini bentuknya lucu, pulau Kalimantan,” kata Dek Fathina sambil mengangkat sebuah piala. “Hei, jangan sembarang pegang, nanti ada yang pecah!”
“Fathina hati-hati, kok.” Aku mempehatikan pulau Kalimantan yang dipegang Fathina. Bukan piala kejuaraan, mungkin semacam hadiah atau kenang-kenangan.
“Kalian tahu, siapa orang gila yang tadi bertemu dengan kita?” tanya Bunda, yang kami jawab dengan gelengan.
“Dia dulu teman SMA Bunda,” kata Bunda sambil melambaikan tangannya memanggil kami. Kami mendekat dan duduk di dekat Bunda. “Anak yang hebat sekali. Rebutan para gadis.” Aku mengingat-ingat wajah bapak itu. Memang, sisa-sisa ketampanannya masih terlihat.
“Otaknya luar biasa cerdas. Kalau kita belajar mati-matian dan akhirnya hanya mendapat nilai delapan, dia sudah langganan nilai sepuluh, belajar ataupun tidak. Prestasinya bertumpuk-tumpuk. Tapi meskipun sangat pintar, guru-guru tak seberapa menyukainya, karena sifatnya yang sombong dan suka seenaknya. Ia suka meremehkan orang lain dan merasa dirinya paling pintar. Yah, memang dia yang paling pintar.”
Bunda berhenti sejenak, menarik napas. Selama Bunda bercerita, aku tak henti bertanya-tanya dalam hati, apa Bunda membicarakan diriku? Semoga saja tidak. “Terus apa, Bunda?” Fathina bertanya dengan tidak sabar. Rasa ingin tahunya memang sangat tinggi.
“Orangtuanya cukup mampu, sehingga setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah ke Australia. Ia lalu menikah dengan teman kuliahnya yang sama-sama orang Indonesia. Tak lama kemudian, kedua orangtuanya meninggal dan mewariskan harta yang banyak kepadanya. Ia sendiri pandai berbisnis dan menjadi pengusaha sukses.” Ya, aku tadi sempat melihat salah satu piagam penghargaan yang diberikan kepada ‘Pebisnis Muda yang Berjaya’.
“Tapi roda kehidupan tak selalu di atas, bukan? Perusahaannya ditahan pemerintah karena dianggap melakukan tindak ilegal. Salah satu rumahnya disita. Rumah yang lain dirobohkan warga yang mengamuk. Di tengah keterpurukannya, anaknya meninggal karena sakit. Lalu istrinya pergi meninggalkan dia yang sudah jatuh miskin.”
Bunda menghela napas panjang. Aku dan Fathina terdiam. Oya, Fathina bisa sangat diam jika sedang memikirkan sesuatu. Sangat diam, seperti patung. Cerita yang menyedihkan.
“Karena tidak memiliki fondasi iman yang kuat, kesehatan jiwanya pun terganggu.” Ya, kami sudah bisa menebak itu.
“Dan rumah ini beserta seluruh isinya,… adalah miliknya.”
***
Sudah empat tahun aku tinggal di pesantren ini. Sejak Bunda menunjukkan padaku dan Dek Fathina tentang temannya yang kaya, pintar, dan berprestasi namun akhirnya menjadi kurang waras, tanpa sungkan-sungkan aku langsung setuju melanjutkan sekolah ke pesantren.
Di sini aku menghafal al-Qur’an sambil tetap bersekolah seperti biasa. Sudah empat tahun, dan hafalanku telah tamat 30 juz. Salah satu yang membuatku selalu bersemangat –selain keluargaku-, adalah Pak Ridwan. Dari dulu aku tak pernah berhenti mengagumi guru SD-ku itu. Aku sungguh ingin menjadi penghafal al-Qur’an seperti Beliau. Sebab aku sangat senang pada sifat Beliau, dan aku meyakini, itu adalah pengaruh dari al-Qur’an yang ia bawa-bawa di hatinya itu.
Ustadz di pesantrenku menawarkanku melanjutkan sekolah ke Timur Tengah. Sekolah-sekolah di sana, seperti di Arab Saudi, Mesir, Sudan, Yaman, dan sebagainya, sangat menghargai orang yang hafal al-Qur’an. Bila ada hafalan, bisa masuk dengan mudah, dan seluruh biaya ditanggungkan.
Aku menyerahkan jawaban pada Bunda. Apapun jawaban Bunda, itu adalah jawabanku. Bunda malah sangat senang ketika mendengar berita itu. Sama senangnya seperti ketika aku mengatakan, tak keberatan bersekolah di pesantren. Bunda tak memikirkan dirinya yang akan kesepian ditinggal oleh anak-anaknya.
Islamic Center London, Inggris
Sinar matahari sore memaksa masuk, melewati lubang-lubang jendela, menambah semarak suasana masjid Islamic Center. Seorang lelaki tampak sedang sibuk mengajar. Yang diajar kurang lebih ada dua puluh orang dan terlihat lebih tua dari yang mengajar.ya, lealaki itau memang masih muda. Belum kepala tiga. Mungkin 27 atau 28.
Dengan lembut, laki-laki bergamis putih itu menjelaskan setiap pertanyaan yang diajukan. Orang-orang muslim dari berbagai ras dan bangsa yang tinggal di kawasan London biasa berkumpul di sana untuk menimba ilmu darinya.
Madrasah al-Fatih, namanya. Tempat belajar bagi siapapun, usia berapa pun. Belajar bahasa Arab, ilmu-ilmu agama, dan terutama menghafal al-Qur’an. Sekitar sebulan yang lalu, tiga orang remaja baru saja menjalani wisuda tahfizh 30 juz.
Madrasah ini adalah salah satu fasilitas yang ada di Islamic Center London. Sebenarnya sudah lama banyak yang mendambakan adanya lembaga resmi untuk belajar agama di Islamic Center itu. Namun karena tidak adanya sumber daya manusia, akhirnya baru bisa terwujud ketika datang seorang pemuda dari Indonesia. Pemuda itu biasa saja. Berasal dari keluarga yang juga biasa saja, menurutnya. Namun ada dua hal yang akan selalu membuatnya terlihat istimewa, di mana pun: hafalan al-Qur’an di dadanya yang memancar dalam setiap perilaku, dan ketinggian pemahamannya akan ilmu agama.
Langit sudah berwarna jingga ketika majelis itu bubar. Sebelum berpisah, masing-masing orang saling berangkulan dan mengucap salam. Tiba-tiba seorang wanita muda yang mengenakan jilbab dan jas putih masuk dengan langkah pelan-pelan.
“Sudah selesai?” tanyanya kepada laki-laki yang tadi mengajar.
“Sudah.”
“Ayo pulang, Kak Fatih!”
Pemuda itu datang ke London sekitar tiga tahun yang lalu. Saat itu tujuannya hanya mengantar adiknya yang mendapat beasiswa S2 dari International Red Sickle London. Usianya baru tujuh belas tahun ketika menyelesaikan kuliah kedokteran di UGM. Setelah lolos seleksi yang diadakan, dia diperbolehkan bekerja di IRS London dengan disekolahkan terlebih dahulu.
Setelah beberapa pekan menemani adiknya, warga London mulai jatuh hati kepada pemuda itu dan membujuknya untuk menjadi pengajar di Islamic Center. Akhirnya, diboyonglah ibu dan kakak perempuannya, tinggal bersama di London.
Tujuh tahun tinggal di Inggris sudah cukup untuk membuat mereka merindukan tanah air tercinta. Kini keluarga itu telah kembali dan menetap di Malang.
***
Pagi itu ia baru saja selesai sholat Dhuha. Usianya yang sudah kepala enam dan kondisi tubuh yang lemah membuatnya ingin kembali berbaring. Namun sebelum merebahkan diri, ia memanggil kedua putrinya dan menyuruh mereka membereskan kamarnya serapi-rapinya dan menyisirkan rambutnya yang panjang dan telah memutih. Setelah itu ia menyuruh putri sulungnya untuk memanggil anak laki-lakinya. Ia tak peduli sedang apa dan di mana, putra tunggalnya itu harus segera datang jika ia memanggil.
Tampaknya sang anak sangat memahami keinginan ibunya. Tak sampai setenagh jam kemudian, seorang laki-laki mengucap salam di depan rumah dan langsung masuk menuju kamar ibunya. Padahal laki-laki itu mempunyai jam terbang yang cukup tinggi. Saat telepon selulernya bordering tadi, yang mengabarkan bahwea ibunya memanggil, ia sedang mengajar di Universitas Islam Negeri Malang. Tapi jika ibunya yang memanggil, akan ia abaikan kesibukan sepenting apapun.
Laki-laki itu menyalimi ibunya yang berbaring didampingi kedua putrinya. “Ada apa, Bunda?” tanyanya. “Bunda ingin mendengarkanmu mengaji, Nak.” Laki-laki berwajah bersih itu tersenyum pengertian. Tangannya mengambil mushaf al-Qur’an di sakubajunya dan mulai mengaji. Padahal kaset rekaman suara mengajinya sudah beredar. Padahal ia baru saja meninggalkan rumah dua jam yang lalu. Namun ia tetap memenuhi permintaan ibunya.
Suaranya mengalun merdu, meliuk hingga ke relung jiwa. Sejak kecil, pria itu memang pandai menyanyi. Ditambah modal tampangnya yang sangat lumayan, sebenarnya laki-laki ini bisa menjadi penyanyi idola. Namun ia lebih memilihn untuk mengembalikan karunia itu kepada Yang Memberi.
Kakak dan adiknya menundukkan kepala, bulu roma mereka meremang mendengar suara mengaji itu. Air mata berlinangan di pipi sang ibu. Setiap mendengar anaknya membaca al-Qur’an, wanita itu tak mampu menahan gemuruh di dada. Tak hanya dia. Mungkin siapapun yang masih sehat hatinya, akan merasakan hentakan dahsyat bila mendengar pria itu membacakan kalam Allah. Tak heran bila ia mengimami sholat Tarawih, makmumnya akan membanjir hingga koridor masjid terpenuhi semua.
“Bunda bangga, Nak,” kata wanita itu sambil menggenggam tangan anaknya. Ia tahu, seharusnya dari dulu ia ucapkan kalimat itu. Ia tahu, betapa anaknya sangat mengharapkan ia mengatakan hal itu. Namun ia yakin, tanpa kata-kata dari mulut pun, anaknya bisa merasakan gelombang perasaannya. Dan ia tak pernah sedetik pun tak merasa bangga pada putra yang kini duduk di sisinya itu.
Laki-laki itu masih terus melantunkan firman Robbnya. Suasana sungguh syahdu. Langit, matahari, angin, semua bagai turut terdiam menyimak ayat-ayat sang Rahman. Cuaca tidak panas, tidak pula mendung. Angin menghentikan aktivitasnya. Matahari seolah sungkan menunjukkan kegarangannya. Di akhir surat, laki-laki itu baru berhenti. Kedua saudara permpuannya mengangkat kepala dan menyeka air mata.
Laki-laki itu meletakkan mushaf yang tadi dibacanya dan mencium tangan ibunya. Dingin yang disentuhnya membuatnya tersentak. Saat itu ia baru sadar, malaikat maut telah menyapa ibunya!
Segurat senyum terukir di wajah sang ibu. Senyum yang memancarkan rasa bangga.
***