Salah satu bentuk kemukjizatan al-Quran adalah keunikan cara Allah mengawalinya. Karangan manusia hampir bisa dipastikan diawali dengan kalimat berpola “pada suatu hari”. Dalam hal ini kitab Injil sekarang juga termasuk. Misalnya, kata ”waktu itu”, ”ketika”,... tapi Allah tidak memulai seperti itu. Tidak dengan cerita, tidak dengan sapaan, melainkan suatu perintah.
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Robbmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Robbmulah yang Maha Mulia,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Q.S Al-Alaq : 1-5)
Sebuah Kisah yang Tak Asing
“Bacalah, hai Muhammad!” seru Jibril, malam itu. Kita tahu, Rasulullah bukan orang yang pandai membaca dan menulis. Tapi mengapa ada suara yang menyuruhnya membaca? Suara tersebut begitu menggelegar dan tegas. Rasulullah takut, tapi beliau tidak bisa membaca. Akhirnya dengan gemetaran Rasulullah menjawab, “Saya tidak bisa membaca.”
Anehnya sosok aneh tersebut tetap bersikukuh menyuruhnya membaca. Beliau pun tetap menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Untuk yang ketiga kalinya lagi-lagi beliau tetap dipertintahkan membaca. Hampir putus asa, Beliau pun memberi jawaban yang sama. Sosok yang tak lain adalah malaikat Jibril itupun mendekapnya erat-erat dan membisikkan di telinga Nabi, lima ayat di atas. Demikianlah cerita yang anak TK pun hafal. Namun sudah mengertikah kita hikmah besar yang terkandung dalam cerita tersebut?
Perhatikan, ayat di atas tidak berbunyi “Bacalah dengan nama Allah” padahal orang Arab dulu sudah biasa menyebut nama Allah. Sehari-hari mereka bersumpah dengan nama Allah. Logikanya, orang akan menggunakan pilihan kata yang sudah tak asing agar orang lain lebih mudah mencerna. Tapi, lagi-lagi, cara Allah unik. Yang dipakai justru “Bacalah dengan nama Robbmu”. Tentu diksi ini bukan tanpa maksud. Apalagi Robb adalah kata yang jarang dipakai. Apa makna di balik kata Robb?
Pengertian Robb
Secara bahasa Robb berasal dari kata rabba-yarubbu yang artinya mengembangkan sesuatu dari satu keadaan sampai pada keadaan sempurna. Arti gampangnya mengasuh, menjaga, mengatur, sehingga muncullah istilah murabbi atau pendidik. Bisa juga diartikan tuan atau pemilik. Robbu-ddar berarti tuan rumah.
Bila dikaitkan dengan Allah, Robb berarti sang Maha Pengatur, Maha Penjaga, Maha Pemberi, dan apapun perbuatan Allah yang mana Allah sebagai subyeknya. Rabbul ‘alamin berarti Allah Pencipta alam semesta, Pengurus dan Pembimbing mereka dengan segala nikmat-Nya, serta Pemberi balasan atas segala perbuatan makhluk-Nya.
Jadi, di dunia ini ada banyak tuhan. Apapun yang menjadi tujuan hidup, tautan cinta, pujaan hati, dan alasan segala aktivitas, maka itu adalah tuhan. Ada yang bertuhankan pohon, batu, kuburan… Ada juga yang menjadikan materi sebagai tuhannya. Tapi tuhan yang Robb hanyalah Allah. Yang menghidupkan, memberi rizki, menyayangi, mematikan, dsb.
Jadi ketika kita mengatakan “rodhitu bi-llahi robba” yang artinya “aku ridho, rela, Allah sebagai Robbku”, sama saja kita mengatakan, “aku ridho Allah sebagai pembuat hukum mutlak, aku ridho dengan segala ketetapan yang Allah berikan padaku, aku ridho hanya Allah penjagaku, ridho dengan segala yang telah terjadi”. Maka tak heran jika dalam haditsnya Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mengucapkan Rodhitu bi-llahi robba, maka wajib baginya surga.” Begitu dalamnya makna sebuah kata Robb. Menyelaminya tak habis dengan hanya beberapa lembar kertas. Tapi mungkin cukup memberi gambaran bagi kita yang serba terbatas ini.
Mengapa al-Alaq : 1-5?
Lalu mengapa ayat yang pertama diturunkan adalah Al-Alaq : 1-5? Maksudnya, mengapa Allah memulai dengan “Iqro’ bismi Robbik”? Bukan dengan “bismi-llah” yang akhirnya menjadi awal Al-Qur’an. Bukan dengan ayat “maka sembahlah Aku, dan dirikan sholat untuk mengingat-Ku”? Bukan dengan ayat yang lebih bisa Rasulullah lakukan ketimbang membaca?
Mungkin ada yang menjawab, Allah ingin menunjukkan betapa pentingnya membaca dan betapa mulianya orang berilmu.
Jawaban di atas bisa benar. Karena Allah tidak menyebutkan apa yang harus dibaca, maka perintah membaca mencakup semua yang bisa dibaca. Pertama, hendaknya kita membaca diri sendiri. Merenungi kelemahan diri. Lalu membaca ayat-ayat-Nya yang bertaburan di semesta. Merenungi kebesaran-Nya.
Tapi ada satu jawaban yang tak banyak orang menyadarinya.
Lagi, mengapa al-Alaq : 1-5?
Karena manusia saat itu sudah di puncak kesyirikan. Mereka lupa siapa yang menciptakan. Ibaratnya orang-orang tak henti-henti memuji sebuah lukisan yang luar biasa indahnya. Tapi tak sekalipun pelukisnya disebut-sebut. Tentu sang pelukis gemas dan berusaha memberitahu bahwa dia yang membuat lukisan itu. Pujilah aku, kata pelukis itu, kenapa malah benda mati yang terus-menerus dipuji?
Begitulah. Allah pun ingin kembali mengingatkan eksistensi-Nya sebagai yang mencipta. Bacalah dengan nama Robbmu yang mencipta. Aku yang mencipta, bukan patung-patung. Bacalah dengan nama-Ku. Aku yang memberi penglihatan. Aku sumber segala kekuatan. Apa yang kalian cari dari makhluk yang tak bisa apa-apa? Bacalah dengan nama Robb! Apakah berhala-berhala itu Robb kalian?
Jadi yang pertama ingin Allah benahi adalah urusan aqidah. Menyadari bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak menjadi orientasi hidup. Inilah inti dakwah para rasul, sejak zaman nabi Nuh hingga Nabi Muhammad saw. Dalam al-Quran Allah menegaskan,
24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik*) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
25. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Q.S Ibrahim:
*) termasuk dalam Kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala Ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. kalimat tauhid seperti Laa ilaa ha illallaah.
Rahasia Generasi Emas
Generasi sahabat adalah generasi terbaik yang Rasulullah pun menegaskan dalam haditsnya, “Generasi terbaik adalah generasi sahabat-sahabatku, lalu generasi setelahnya, lalu generasi setelahnya lagi.” Mereka adalah manusia-manusia pilihan, alumni madrasah wahyu.
Di antara mereka ada Umar bin Khattab, yang tadinya dijuluki preman Quraisy dan tega mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Namun begitu masuk Islam, segala perangai buruknya hilang seketika. Beliaulah yang kata-katanya sering dibenarkan Rasulullah. Beliaulah khalifah yang mengerjakan pekerjaannya sendiri. Lalu di antara mereka ada wanita-wanita Anshar yang ketika turun ayat yang mewajibkan berjilbab, seketika itu juga mengambil apa saja yang bisa dipakai untuk menutupi aurat mereka. Entah gorden, entah taplak meja, entah sprei, pokoknya apa saja. Sedangkan kita, berapa lama kita baru mau memulai melaksanakan perintah Allah?
Ada juga Ummu Habibah istri Rasulullah yang dengan tegas menarik tikar Rasulullah yang sedang diduduki ayahnya, Abu Sufyan, karena waktu itu sang ayah masih musyrik. Bisakah kita setegas itu membela kebenaran, apalagi terhadap orang yang selama ini begitu kita segani dan hormati? Masih ada Khansa’ yang merelakan semua anaknya gugur di medan jihad tanpa sedikitpun kesedihan. Ketika akhirnya dia menangis, tak lain adalah karena menyesali anaknya yang hanya empat. Seandainya masih ada, tentu akan dia kirim pula mengikuti peperangan.
Masih banyak yang lainnya yang kisah mereka bagai oase di padang kerontang. Mengenai mereka, Rasulullah bersabda, “Sahabatku laksana gemintang. Yang mana pun kau jadikan pegangan, tentu kau akan tercerahkan.”
Lantas apa rahasia kecemerlangan mereka? Yang tadinya bodoh, kasar, bertindak sesuka hati, berkuasa, suka berperang, tiba-tiba mau diatur dengan Islam? Yang tadinya tampan, kaya-raya, rela kehilangan semuanya demi meneguk keindahan Islam? Inilah hasil didikan Rasulullah.
Pertanyaannya, seperti apakah didikan Rasulullah itu?
Sebenarnya Rasulullah hanya mengikuti tuntunan Allah swt. Perlahan-lahan, Allah mencelup dengan cara-Nya yang Maha Sempurna.
138. Celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik celupannya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. (Q.S Al-Baqarah: 138)
Dan Allah memutuskan untuk memulai dengan pengenalan terhadap Robb. Karena, ketika manusia sudah memahami siapa Robbnya yang Maha Besar, maka dunia terasa begitu kecil di matanya. Ketika dia tahu Robbnya yang Maha Mulia, terasa begitu hina dirinya. Inilah kandungan wahyu pertama yang tertangkap oleh para sahabat, namun terlupakan oleh kita.
Misi Wahyu Pertama
Ada banyak kandungan dari surat al-Alaq ayat 1-5. Baik tersurat maupun tersirat. Baik yang umum diketahui maupun yang hanya ditangkap oleh mereka yang betul-betul ingin menjadi alumni al-Alaq. Di sini kita akan menggali sebagian dari misi wahyu pertama yang bisa kita ambil.
1. Mengikis kesombongan
Dari konteks ayat sudah jelas, bahwa manusia dicipta dari sesuatu yang hina. Jadi, tidak ada modal untuk berbangga-bangga. Kita semua sama, ke mana-mana membawa kotoran, bagaimana mau merendahkan orang lain?
Tapi sekedar mengenali kekerdilan diri tidaklah cukup. Kita harus mengenali pula kebesaran sang Pencipta. Maka hadirlah ”Bacalah dengan nama Robb-mu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.” Di sini terdapat pola kalimat utuh, yaitu SPOK. Ada Allah sebagai subjek dan manusia sebagai objek. Artinya kita dituntut untuk mengenali keduanya. Namun di samping itu ada kandungan lain yang Nabi pun sempat ditegur.
Selama ini kita menganggap sombong identik dengan memamerkan kemampuan. Yang sebenarnya adalah, ketika kita merasa bisa, dan merasa apa yang kita lakukan adalah dengan kemampuan kita sendiri, itulah sombong. Begitu pula sebaliknya, ketika kita merasa dan mengatakan ”tidak bisa”, ketika itu sebenarnya kita pun tengah menyombongkan diri. Mengapa? Karena kita melupakan Allah sebagai sumber segala kemampuan. Allah yang menentukan bisa atau tidak. Kita hanya berusaha.
Sifat seperti telah dicontohkan oleh Bani Israil yang Allah ungkapkan dalam surat al-Maidah ayat 21-26. Yakni ketika Nabiyullah Musa memerintahkan mereka untuk memasuki negeri yang telah Allah tetapkan. Bukannya dengan bangga dan berani mengambil apa yang sudah menjadi hak mereka, mereka malah berkata, ”Hai, Musa,.. di sana itu orangnya hebat-hebat. Kami tidak akan masuk sampai mereka keluar. Kalau mereka sudah keluar, baru kami mau masuk.”
Tapi ada dua orang yang beriman menegur mereka,
”Sudahlah, masuk saja! Kalau sudah masuk, pasti kamu menang. Bertawakkallah, yakinlah pada kekuatan Allah!”
Terbukti, Allah sangat menyukai kesombongan seperti ini dan akhirnya menghukum Bani Israil sehingga terlunta-lunta, tidak punya negeri hingga 40 tahun lamanya.
Kesombongan seperti ini pula yang sempat terbersit pada diri Rasulullah. Yakni ketika Jibril berseru, ”(Hai Muhammad,) bacalah!” Apa jawaban Rasulullah? ”Saya tidak bisa membaca.” Jibril pun mengulangi beberapa kali, baru mendekap Rasulullah erat-erat. Mengapa Jibril harus mengulang perintah yang jawabannya akan selalu sama? Mengapa tidak sejak dari pertama kali Rasulullah menjawab tidak bisa, langsung saja Jibril memberi tahu?
Karena dalam hati Rasulullah ada secuil kesombongan.
”Bacalah!,” kata Jibril. ”Saya tidak bisa...,” jawab Nabi. Dalam bahasa gamblangnya ibarat Jibril melanjutkan, ”Sudahlah, pokoknya baca saja!” ”Saya tidak bisa...” ”Ayo, baca!” ”Sa.. saya ndak bisa...”
”Hei, Muhammad,... coba dulu. Belum apa-apa sudah bilang tidak bisa. BACA DENGAN KUASA ROBB-MU!!! Memang kamu itu tak bisa apa-apa kalau bukan Allah yang memberi kemampuan. Kamu sangka selama ini kamu bisa karena diri kamu sendiri? Karena kamu cerdas?! Karena kamu belajar?! Lantas ketika kamu tidak pernah belajar sebelumnya, maka kamu bilang tidak bisa?! Kamu ke manakan Allah, Robb-mu??? Kalau Allah mau kasih bisa, siapa yang mampu menolak?”
Tentu saja Jibril tak pernah berkata begitu. Dialog di atas hanya untuk memperjelas. Jadi, kita tidak boleh langsung mengatakan tidak bisa sebelum memcoba dulu. Bukan hal yang sulit bagi Allah untuk memberi sepercik ilmu-Nya. Bukan mustahil, misalnya, kita bertekad ingin menghafal al-Qur’an, tiba-tiba dalam waktu beberapa bulan sudah hafal.
2. Berorientasi hanya pada Allah
Bismi robbik, dengan nama Robb-mu. Manusia-manusia al-Alaq adalah mereka yang tahu untuk siapa mereka hidup. Ketika Rasulullah menyampaikan ayat ini, orang-orang yang mendengarnya langsung tersentak dengan kesadaran, untuk apa sesungguhnya mereka di dunia ini. Seketika mereka langsung mengarahkan hidup untuk sesuatu yang abadi.
Bismi robbik, dengan nama Robb-mu. Maka muncullah Khadijah, yang rela mengorbankan apapun yang dimiliki demi kemajuan dakwah suaminya. Zaid bin Haritsah bahkan rela berpisah dengan ayahnya demi kebersamaannya dengan Nabi. Tiap langkah mereka adalah demi mencari keridhoan Robb mereka. Tiap ucapan dipertimbangkan, apakah bermanfaat yang saya katakan ini? Asal Robb mereka ridho, apapun akan dilakukan, walaupun harus mati. Keluarga Yasir adalah contoh pertama.
Bismi robbik, dengan nama Robb-mu. Apa yang sudah kita lakukan?
3. Tafakkur dalam tiap pandang
Bacalah!
Allah tidak menjelaskan apa yang harus dibaca. Hanya bacalah dengan nama Robb-mu. Artinya, kita boleh membaca apa saja asal ditujukan kepada Allah. Hendaknya kita menemukan Robb ke mana pun mata memandang. Sudah dijelaskan bahwa pengertian Robb adalah apapun kegiatan yang Allah menjadi subjeknya. Mencipta, menjaga, mengatur, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, dan sebagainya. Jadi di mana bisa kita temukan Robb?
Lihatlah sebutir kacang ijo. Resapi kebesaran Robb dengannya. Sebutir kacang ijo itu begitu kecil, namun di dalamnya terhimpun semua data tentang pohon yang bakal tumbuh dari benih tersebut. Semua! Dari rasanya, bentuknya, ukurannya,... semua ada dalam satu butir.
Tak usah jauh-jauh, membahas tubuh manusia saja akan didapat sejuta keagungan Allah. Hembuskan napas sekuat-kuatnya sampai rasanya tak ada lagi yang bisa keluar. Ternyata masih ada udara residu, yaitu udara sisa yang Allah siapkan untuk selalu ada di paru-paru kita. Bayangkan jika tak ada udara residu, alangkah khawatirnya jika bernapas. Sangat hati-hati kita menghembuskan napas, takut nanti habis udara di paru-paru.
Masih tentang bernapas. Kita seringkali bernapas dengan biasa-biasa saja, tanpa menemukan Robb dalam tiap hembusan. Padahal Allah telah menggoreskan kuasa-Nya dalam komposisi oksigen yang hanya 21% dari udara di Bumi. Jumlah ini, jika Allah tambah sedikit saja, maka segala sesuatu yang ada di Bumi akan sangat mudah terbakar. Jika Allah kurangi, tentu makhluk hidup akan sesak dan kesulitan bernapas. Maha Besar Allah!
Begitulah. Ke mana pun mata memandang, selalu memikirkan kebesaran Allah sebagai Maha Pencipta, Maha Pengatur.
4. Tak mendahului penilaian Allah
Profil al-Alaq, yakni mereka yang telah memaknai lima ayat pertama dan mengaplikasikan dalam kehidupan, tentu tak pernah sembarang mencela atau berkomentar sembarang. Karena Allah telah mengultimatum, ”Bacalah, dan Robb-mu yang paling mulia. Yang mengajar manusia dengan qolam. Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Jadi mereka menyadari betul, bahwa kita ini pada dasarnya bodoh. Tak berhak sembarang menilai. Seringkali yang kita sangka bagus, ternyata jelek. Yang kita pandang sebelah mata, ternyata bagus.
216. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. (Q.S Al-Baqarah: 216)
Atau, misalnya, kita sering mendengar ada yang mengatakan, ”Berdosa, kamu!” Lho, memangnya kita malaikat pencatat dosa dan pahala?! Biarlah Robb yang menilai... Jangan sok tahu dan mendahului penilaian-Nya. Bersihkan hati dari praduga, kesinisan, dan cap yang dengan seenaknya kita tempel di jidat orang-orang. Insya Allah, dengan begitu hati lebih ringan menghadapi hidup.
Akhirnya, mungkin segini saja yang dapat kami sampaikan. Kebenaran itu semata dari Allah. Jika ada yang salah, adalah keterbatasan kami sebagai manusia. Semoga Allah mengampuni kita semua, juga melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya bagi para pembaca makalah ini. Wallahu a’lam bish-showab.
Sumber-sumber yang mendukung penulisan makalah ini:
º Al-Qur’an al-Karim
º Dahsyatnya Ibadah Tafakkur, karya Amru Khalid
º Kitab Tauhid, karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan
º Pelajaran Biologi 2B untuk kelas 2 SMP, penerbit Yudhistira
º Seri Sahabat Nabi, karya Hilmi Ali Sya’ban
º The Choice, karya Ahmad Deedat
º VCD Harun Yahya ”Keajaiban Benih”
º Ceramah Ir. Amalia Husna Akbar, Juli 2007 di Balikpapan
º
Tidak ada komentar:
Posting Komentar