Rabu, 28 Desember 2011

Menghitung korek api


Jika bicara tentang hemat, saya jadi teringat pada Kakek. Menurut cerita Ibu, Kakek adalah seorang pedagang sekaligus petani sukses. Beliau menjadi orang terkaya di kampung waktu itu. Tapi, meskipun kaya raya, Kakek jarang memberi uang jaajn berlebih pada anak-anaknya. Dan Beliau sangat marah jika ada barang yang terlalu cepat habis. Pelit, kata anak-anaknya. Orang-orang di kampung pun, banyak yang menganggap Kakek pelit, karena Kakek seringkali marah pada Nenek yang, menurut Kakek, terlalu murah hati membagi-bagi makanan pada orang-orang sekampung. Rumah yang nyaman dan berstatus sebagai satu-satunya rumah batu di kampung saat itu, menjelma menjadi tempat persinggahan, istirahat, melepas lelah, bahkan mengadukan asap dapur.
Sesungguhnya –sedikit orang yang menyadari-, Kakek tidak bermaksud pelit. Hanya cermat dan penuh perhitungan. Kakek tidak mau anak-anaknya menjadi anak-anak yang malas, manja, dan bisanya hanya bergantung pada orang tua. Kakek juga tidak suka bila warga kampung menjadi pribadi-pribadi pemalas yang mengandalkan orang lain. Inilah maksud Kakek yang salah dimengerti orang-orang. Ada dua pesan Kakek yang selalu diingat Ibu. Yang pertama, dalam suatu rumah, jangaaan sampai, jangan sekali-kali, betul-betul kehabisan garam dan beras. Waktu itu Kakek tidak menjelaskan panjang lebar, namun sekarang Ibu memahami maksud Kakek.
Dua hal tersebut, garam dan beras, adalah barang pokok dalam memenuhi kebutuhan pangan. Kita selalu membutuhkan keduanya. Hingga ketika habis (padahal kita sedang memerlukan), kita terpaksa meminta pada tetangga atau orang lain. Mental peminta dan bergantung pada orang lain inilah yang harus dilenyapkan. Sebab ini yang mengikat manusia, bangsa Indonesia khususnya, dalam lubang kemiskinan. Yang kedua, hidup ini mesti penuh perhitungan, kata Kakek. Bahkan korek api pun harus dihitung. Ibu, yang ketika Kakek menyampaikan itu masih kecil, hanya tertawa dalam hati mendengarnya. Seperti orang kurang kerjaan, korek api saja dihitung, batin Beliau.
Tapi ternyata, sebagian warga di kampung saat itu, memang menhitung korek api! Artinya, mereka berusaha menggunakan seefektif mungkin. Sehingga bisa terjadi, dalam satu hari hanya habis sebatang korek api. Caranya, sebelum menyalakan sebatang korek api, diperkirakan dan direncanakan, apa saja yang akan dilakukan dengan sebatang itu. Memasak dulu, misalnya, atau membakar sampah. Jika memasak, apa dulu yang harus dimasak, dan seterusnya. Bahkan ada yang mensiasati dengan menggunakan pelita yang sumbunya dibuat sekecil mungkin. Pelita ini dimaksudkan untuk menyimpan api, sekaligus sebagai penerang ketika malam. Ada juga yang membuat arang, lalu ditutup dengan sekam. Jika butuh api, tinggal mengorek sekam dan meniup arang. Inilah metode “menghitung korek api” yang diaplikasikan orang-orang tua dulu.
Padahal, korek api waktu itu pun, belum termasuk barang langka ataupun mahal. Namun mereka menghargai tiap batang yang terbuang. Seharusnya kita lebih prihatin, khususnya terhadap BBM. Mengingat BBM (dalam hal ini, minyak bumi), adalah sumber daya yang dibutuhkan di seluruh dunia dalam jumlah besar, sedangkan stoknya di Bumi bukan tanpa batas.
Sesungguhnya ini adalah masalah mental.
Bangsa ini belum tergolong baik dalam hal menghargai. Murid yang mencontek pekerjaan temannya, ia tidak menghargai usaha orang lain. Remaja yang menghabiskan waktu tanpa guna, alangkah tidak menghargai pahlawan pejuang kemerdekaan, yang berjuang mengorbankan jiwa raga demi kebebasan yang bisa kita nikmati. Pelanggaran aturan yang terus menerus terjadi, artinya tidak menghargai si pembuat aturan dan aturan itu sendiri. Dikaitkan dengan masalah BBM, kita seringkali tidak menghargainya. Menggunakan sesuka hati, tak jarang untuk hal yang tidak atau kurang bermanfaat. Padahal, menurut saya, seharusnya kita menghargai minyak bumi tak jauh beda dengan menghargai sebuah nyawa. Sebab, seperti halnya nyawa, kita tak bisa membuat minyak bumi. Setiap tetes yang terbuang takkan mungkin kembali lagi.
Oke, anggaplah ini terlalu berlebihan. Tapi fakta bahwa “tidak menghargai” adalah wabah yang menimpa rakyat Indonesia, saya rasa tidak berlebihan. Mengapa banyak orang membuang sampah sembarangan, korupsi masih meraja lela, tindak criminal di mana-mana, semua itu adalah refleksi sikap tidak menghargai. Jadi, jelas, ini masalah mental. Dan jelas, orang-orang dulu yang mengamalkan prinsip “menghitung korek api” (minimal kakek saya), sudah lebih dulu mengetahui pentingnya membangun mental.
Tanpa kita sadari, banyak hal kecil di sekitar kita yang sebenarnya berpengaruh besar dalam membentuk kepribadian atau mental kita. Kedua nasehat Kakek di atas (yang terkesan remah dan konyol) tentu bertujuan menyorot mental. Mengenai nasehat yang pertama, saya rasa sudah cukup jelas. Memupuk perasaan “memiliki” dengan terus menjaga stok kebutuhan pokok di rumah otomatis menjauhkan kita dari perasaan “tidak punya” yang mana perasaan seperti ini bisa menjadi sugesti yang mungkin terwujud dalam kenyataan. Nah, mengenai yang kedua,.. orang yang membiasakan diri menghitung korek api akan terbiasa melihat lebih jauh ke depan dan merencanakan dengan sistematis. Jika hal kecil seperti korek api saja diperhatikan, apalagi untuk yang lebih besar dan lebih penting. Menghitung korek api juga berarti berlatih mengurutkan skala prioritas. Jika kita membiasakan siakp seperti itu, walau bukan betul-betul menghitung korek api, tentu menghemat tak lagi jadi persoalan rumit.
Membangun mental. Inilah yang harus dilakukan jika mengharap perbaikan negeri. Apalah artinya menaikkan gaji, tunjangan hidup, atau apapun istilahnya, tanpa memperbaiki mental. Jika diprediksi kenaikan gaji polisi akan memperbaiki kinerja pelayanan pada masyarakat, misalnya, saya katakan: salah besar, jika tak diiringi perbaikan mental. Jika diperkirakan memperbesar tunjangan anggota dewan akan membuat mereka semakin memikirkan rakyat, sekali lagi, tanpa perbaikan mental, saya akan tertawa seperti mentertawakan lelucon paling konyol. Selama belum dihilangkan mental-mental pencuri, rakus, pemalas, semua hanya akan menjadi omong kosong. Dengan mental yang masih anjlok, memberi materi berlimpah sama sekali bukan solusi. Justru, semakin kaya, orang akan semakin rakus. Semakin tahu bagaimana menghabiskan uang. Semakin mengerti cara memanjakan diri. Dan tentu, akan semakin tamak, mengharap materi lebih banyak lagi. Itulah pentingnya membangun mental. Bagai akar yang menentukan kokohnya sebuah tanaman. Saya tidak berani menjamin keberhasilan alternative lain, yang tidak menyertakan pembentukan mental. Oleh karena itu, saya memilih untuk membahas masalah mental, bahkan untuk tema BBM.
“Menghitung korek api” adalah ilmu dari para pendahulu, yang terbuang. Begitu pula, banyak ilmu-ilmu lain yang seringkali, bahkan lebih baik dari solusi modern. Ilmu pertanian, medis, tata boga, tata busana,.. mungkin masih bisa kita ingat, bagaimana ketika sakit cacingan, Nenek di kampung segera membuatkan rujak dengan pepaya muda. Ketika menanam ubi, Kakek, dengan ilmu perkebunannya, sukses menghasilkan ubi sebesar semangka. Belakangan ini kita dihebohkan oleh berita kentang seukuran durian monthong. Tapi Kakek telah lebih dulu berhasil melakukannya, puluhan tahun silam. Ini adalah fakta tentang orang kampung yang seringkali dianggap ketinggalan jaman. Kita begitu bangga dengan sebutan manusia modern hingga rela kehilangan ilmu-ilmu yang sangat berharga, baik ilmu fisik maupun moral. Padahal nyatanya, dengan modernitas yang kita usung tinggi-tinggi tak menjadikan kita lebih baik dari orang-orang terdahulu. Manusia zaman sekarang bahkan dicap mengalami keterlambatan pendewasaan. Ah, sekiranya kita tak terlalu sibuk mengejar-ngejar perkembangan zaman yang takkan ada habisnya, dan bersedia mengingat kembali ajaran orang-orang sebelum kita, Bumi yang nyaman dihuni tak lagi sebatas impian. 
Sedikit menambahi, saya ingin mengingatkan kembali bahwa Allah tak main-main ketika menciptakan manusia. Bahkan orang atheis pun meyakini, manusia tercipta terakhir, setelah seluruh semesta disiapkan baginya. Yang ada di Bumi, baik di atas permukaan, maupun di bawah tanah, seluruhnya adalah untuk manusia. Seluruhnya! Bahkan “penyambutan” ini memakan waktu ratusan juta tahun, jauh melebihi kita menyambut presiden manapun. Salah satunya adalah minyak bumi. Tentu bukan tak sengaja Allah pendam tulang-belulang demikian lama hingga menjadi minyak yang sangat kita butuhkan. Sebelum manusia dijadikan penghuni dan pemimpin Bumi, Allah telah mempersiapkan segala fasilitas untuk memudahkan penghidupan dan menjalankan kepemimpinannya. Fasilitas yang masih sangat sering disalah gunakan. Ya, Allah tak pernah main-main dalam penciptaan manusia. Manusianya saja yang suka bermain-main dengan sang Pencipta.

Bontang, 8 Desember 2008

Penulis Karangan Mengarang Tulisan

Kau belum juga mulai menulis? Jangan begitu… Aku sudah mulai berpikir dari tadi. Perintahnya menulis, bukan berpikir! Bedakan, dong! Ya, ya. Cepatlah! Mengapa aku harus terburu-buru? Sebab waktu dua jam akan segera habis. Hah? Dua jam?! Bagaimana bisa aku menulis dalam waktu sesingkat itu? Bisa saja. Emha Ainun Nadjib saja menyanggupi lima tulisan tentang sepak bola dalam waktu kurang dari dua jam. Tinggal mengimajinasikan pemetaan dimensi, katanya, memperluas lapangan bola menjadi lapangan nilai, menentukan sudut-sudut, dan jadilah! Lucu sekali. Kau menyandingkan aku dengan penulis yang seolah huruf-huruf telah mengaliri tiap sel tubuhnya, dan di otaknya ada buku yang terbuka yang tinggal ia salin ke atas kertas. Aku jadi merasa terhormat. Sekarang bukan waktunya untuk itu, jawabnya dengan nada tak sabar. Ayo, menulis! Apa yang harus kutulis? Apa saja! Temanya bebas. Menulis tak segampang itu, kataku setelah, lagi-lagi, tercenung lama. Perlu kuberi contoh lagi? Gus Dur bisa menyelesaikan tulisannya yang dulu biasa dimuat di majalah Tempo sepanjang perjalanan pesawat Jakarta – Singapura. ‘Aidh al-Qarni juga begitu. Mereka biasa menulis. Pena mereka telah lancer menari. Lalu, mengapa kau pun tidak membiasakan menulis? Aku tidak tahu aka nada ujian seperti ini. Guru-guru juga jarang member tugas menulis. Jadi kau menunggu perintah, baru bergerak? Menunggu terdesak, baru berlari? Kalau begitu, apa bedamu dengan hewan? Atau kau robot yang diatur-atur orang lain? Bukan begitu. Bukankah kita bisa menuangkan isi pikiran jika memang ada isinya? Dan orang-orang yang lancer menulis, tentulah karena penuhnya otak mereka, hingga meluber ke mana-mana. Hoo.. Jadi kau mau bilang bahwa otakmu kosong? Aku tidak menghiraukan. Mengapa perlu ada ujian mengarang, sedang kita tidak dibiasakan sebelumnya? Apa keahlian bisa jatuh dari langit? Bukankah tujuan sekolah adalah pembiasaan hal-hal baik? Jika tidak, apa artinya nilai 100 yang kelak hanya untuk ditumpuk di gudang, menunggu untuk dibuang? Mengapa siswa-siswi bukan diperintahkan menulis sebanyak-banyaknya, dan bukan secepat-cepatnya? Bagaimana bila diberi tenggat waktu untuk menyelesaikan sekian tulisan, bukankah itu akan membuahkan tulisan yang lebih bermutu? Itu teorimu, bantahnya. Nyatanya manusia suka keterdesakan dan gemar menyia-nyiakan waktu ketika luang. Ahh… Mengapa harus ada Ujian Nasional Praktik Mengarang? Kau heran? Tidakkah kau lihat, bangsa ini sangat menyukai mengarang. Nilai-nilai dikarang. Nama-nama, angka-angka, bahkan waktu pun dikarang! Kalau kau melihat angka 2 jam tertera di jadwal, jangan lekas percaya. Sebab, manusia Indonesia menguasai waktu. Bisa ia ulur panjang-panjang ataupun pendek-pendek. Proyek karangan. Anggaran karangan. Pidato karangan. Aku memutar otak. Cerewet sekali, dia. Seolah-olah ia bisa menulis lebih baik dariku. Kau bicara saja dari tadi, memangnya kau bisa menulis? Ha! Itulah manusia! Senyum mengejeknya naik dari bibir hingga mata. Ditanya, tidak tahu. Diberi tahu, tidak mau tahu. Diutus Rasul, minta malaikat. Nanti, kalau diturunkan malaikat, tidak mau percaya pula. Diceramahi Presiden, mengomel dalam hati, “Iya, kau enak! Tidak merasakan hidup susah. Kebutuhan hidup semakin mahal.” Orang miskin angkat bicara, balas menyahut, “Jangan naïf!” Pak Kyai memberi nasihat, beralasan, “Beliau memang manusia muli, calon penghuni surga. Tidak bisa kita meniru tindak-tanduk Beliau.” Sekali temannya berucap, segera dibantah, “Kau sesama pendosa, jangan omong besar! Sok suci!” Aku jadi takjub mendengar kata-katanya. Sebegitu jauh pemikirannya. Kau ini… siapa? Kau baru menanyakanku. Aku ini bisa siapa saja.aku bisa harimau, aku bisa langit. Aku bisa cicak, ataupun buaya. Aku bisa pejabat ataupun tikus. Aku bisa presiden, bisa burung beo. Aku bisa apa saja! Mengapa begitu? Sebab kau sedang mengarang dan aku adalah karanganmu. Maka aku tidak terbatas lingkup dimensi ruang. Bukankah sudah kubilang,… Tunggu! Aku memotong. Kalau begitu, tugasku sudah selesai. Ia terdiam. Bukankah tugasku saat ini adalah mengarang, dan kau bilang kau adalah karanganku. Bisa dikatakan, aku telah melaksanakan tugasku. Benar, bukan? Ia tak menjawab. Hingga waktu yang lama, suaranya tak lagi terdengar. Kelihatannya sekali ini aku benar. Kelas sudah mulai sepi. Tinggal beberapa siswa yang dari mulutnya riuh terdengar suara hitungan. Pasti menghitung jumlah kata agar mencukupi batas minimal. Aku tak perduli. Sebentar lagi lonceng sekolah berbunyi, dan tugasku sudah selesai. Senin, 29 Maret 2010 Rifi Adzkia

Sabtu, 03 Desember 2011

karyaku


Kaki-kaki mungilnya melangkah lincah antara
mengejar kepingan rupiah
dan mengelakkan aspal membara
Tidak ada sandal pembatas lara
tidak ada payung penaung hawa
yang ada hanya kotak tisu dengan karet gelang
di tengah
ia petik sesuka, menemani menjual suara

Tidak! Orang tuanya bukan tiada
hanya saja jerih payah mereka belum mampu
menutupi dahaga
adik bayinya yang tumbuh dengan air gula

Kaca mobil menutup angkuh
pengendara motor mendadak buta tuli
suara klakson membahana sana sini

di perempatan lampu merah

ia seringkali ingin menyerah
tapi ia tahu, tidak boleh kalah!
biar lelah, tetap mencari nafkah

agar adiknya mencecap susu yang baginya mewah
agar sakit ayahnya tidak bertambah parah
agar ia bisa tetap sekolah, dan ..
agar hidupnya tidak sia-sia


-10 Agustus 2011

puisi ini (kalau bs disebut puisi) tadinya dicipta utk mengikuti lomba 
tapi krn 1 dan lain hal, akhirnya karya ini tak pernah dikirim

Sederhananya Cintaku (Seorang Ibu)


cintaku padamu sederhana saja, Nak
tak perlu diwakili kata-kata
bukan karena takut dusta
tapi sebab tak ada yang setara

cintaku sama bisikan sunyi
bukan antara hati, tapi.
melainkan bisik doa yang kupanjatkan
menyebut namamu setiap malam

cintaku padamu sederhana saja, Nak
mengisi ingatan dengan namamu,
hingga ubun-ubun dan kulitku
(ya, sebab bukankah darahmu adalah dariku?)
sebatas mengisi dan tak peduli
adakah hati di sana sama mencintai

cintaku padamu sederhana saja, Nak
sesederhana air mata yang masih saja menjadi bahasa
sesederhana waktu yang terus saja berlalu
(pernahkah waktu peduli pada mereka yang tak menghargai?)
sesederhana awan yang menurunkan hujan
di bumi utara maupun selatan
di pantai ataupun pegunungan
sesederhana senyuman yang selalu ingin kupersembahkan

di mataku, selalu saja kau yang rupawan
kau terhebat tiada tandingan
ingin kubanggakan bagai pangeran

namun bila kenyataan tak cukup sejalan
rasa cintaku tidaklah hilang
tak berhenti ku ingin mengayomi
hingga hilang dukamu nanti

cintaku padamu sederhana saja, Nak
tak perlu kau bertanya kenapa
cukup karena kau telah ada
itulah maka aku cinta


Jumat, 26 Agustus 2011
-the way I feel be loved by Mother

sederhananya cintaku


cintaku padamu sederhana saja
sebatas mengisi ingatan dengan namamu,
tapi tidak memenuhinya
sekedar meminjamkan hati,
tapi tidak menyerahkannya
(maaf, sebab hati ini bukan milikku)

cintaku padamu sederhana saja
tak terurai dengan kata
sebab bisa saja ia dusta
hanya bisikan sunyi antara hati
yang berusaha selalu memahami
tidak takut untuk kehilangan
(ya. mengapa .. sedang kau bukan pula milikku)

cintaku padamu sederhana saja
seperti alam yang patuh pada kehendak sang Pencipta
seperti langit yang masih saja menaungi bumi
seperti air yang masih setia mengalir
seperti laut yang bertahan dengan kedalaman
seperti pelangi
yang hadir menemani mentari
setelah hujan pergi


Ahad, 21 Agustus 2011

-kata-kata yang muncul begitu aja, ga tau kenapa, ga tau dari mana

corat coretku


mau ke mana, Nak?
di luar, malam 'lah larut
purnama menggantung di ujung ufuk
gelap malam menyergap
sedang langkahmu terus berderap.
Ke mana, Nak?
kau susuri jalan dengan kedua kaki yang kau sangka kokoh
kau terabas gulita dengan mata yang kau kira waspada
tak kau hiraukan kantuk menggelayut
atau pakaianmu yang butut.
Apa yang kau cari?
sedang siang telah berlalu
dan malam bukan milikmu.
Istirahat.. Istirahatlah, Nak..
siapkan diri hadapi
hari esok yang pasti
walau kau tak ingin berhenti
tapi keniscayaan tak dapat dihindari
tubuhmu akan terjatuh tak berdaya
matamu akan terpejam seiring malam.
Istirahatlah..
siapkan diri yang pasti
agar tak tertatih menyambut pagi.

bukankah subuh itu dekat?

-Mei 2010
renungan dari perjalanan

Asa Tak Bernama



laksana denting kehidupan:
mencari cahaya, menengadah arah
Kiranya ada sandaran, tempat bergantung harapan
..
Namun sang menara
tak lagi menyongsong cakrawala.
mentari, tertegun di balik
gumpalan mega.
dan api pun,
PADAM ..!

puisi kerinduan


Maafkan Anakmu, Ibu

Di sana ia menunggu di depan rumah
anaknya yang melompat riang sepulang sekolah
sedetik pun tak ingat ibunya

Di sana ia tabah melawan lelah
membuat hidangan istimewa kesukaan anaknya
tanpa pernah kata terima kasih ia terima

Maaf, Ibu, lidahku kelu ..
tak sanggup ungkap bahwa hati merindu
meski sebenarnya,
di saat diri terpuruk terbebani
bayangmulah yang hadir menyemangati

Maaf, Ibu, mataku beku ..
tak mampu alirkan air mata di hadapanmu
hanya untuk tunjukkan, anakmu tidak lemah
padahal sesungguhnya di kala jauh
air mata berlomba untuk jatuh

Maaf, Ibu, tanganku terbelenggu ..
tak pernah awali memelukmu
tapi sejatinya yang terindah bagiku
hanyalah sentuhan hangat cintamu

dalam mimpi, kudekap erat engkau, Ibu ..
kukatakan rasa sayangku
maaf aku hanya berdaya di alam maya

Maaf, Ibu, baru kukatakan padamu
walau engkau mungkin tak mau tahu :

"aku mencintaimu"



23.08.2011
-menunggu menit-menit kepulanganku ke pelukan Ibu

Kamis, 15 September 2011

Syair-syair Emha Ainun Nadjib


cahaya aurat 

ribuan jilbab berwajah cinta
membungkus rambut, tubuh sampai ujung kakinya
karena hakikat cahaya Allah
ialah terbungkus di selubung rahasia

siapa bisa menemukan cahaya?
ialah suami, bukan asal manusia
jika aurat dipamerkan di koran dan di jalanan
Allah mengambil kembali cahaya-Nya
tinggal paha mulus dan leher jenjang
tinggal bentuk pinggul dan warna buah dada
para lelaki yang memelototkan mata
hanya menemukan benda

jika wanita bangga sebagai benda
turun ke tingkat batu derajat kemakhlukannya
jika lelaki terbius oleh keayuan dunia
luntur manusianya, tinggal syahwatnya.


Merawat Rahasia

wanita yang memamerkan pahanya
hendaklah jangan tersinggung
kalau para lelaki memandanginya
sebab demikianlah hakikat tegur sapa

siapa ingin tak menyapa tak disapa
tinggallah di bilik yang tertutup pintunya
sebab begitu pintu dibuka
orang berhak mengetuk dan memasukinya

maka dengan menonjolkan auratnya
wanita memberi hak kepada lelaki siapa saja
untuk menatapi benda indah suguhannya
serta membayangkan betapa nikmat rasanya

hendaklah wanita punya rasa sayang
kepada ratusan lelaki di sepanjang jalan
dengan tidak menyodorkan godaan
yang tak ada manfaatnya kecuali untuk dipandang

adapun lelaki, sampai habis usia
hanya bisa berkata: betapa indah wanita!
maka bantulah ia merawat rahasia
yang hanya boleh dikuakkan oleh istrinya.


Surah Cahaya

Di masyarakat yang telah dewasa
Wanita yang memakai jilbab
karena aqidah surah cahaya
Diberi ruang untuk mementaskan hak asasinya

Wanita yang memakai jilbab karena arus budaya
Ditemani untuk menemukan kesejatiannya
Disirami sebagai bunga kehidupan
Yang mewakili keharuman Penciptanya

Dan wanita yang memakai jilbab
Karena kapok oleh keburaman masa silamnya
Dilindungi dan disantuni
Dalam semangat husnul khotimah

Adapun mereka yang belum memakai jilbab
Tak dikutuk atau dihardik
Melainkan dicintai
Dengan kearifan dan mau'idhah hasanah

Juga kepada mereka yang menolak jilbab
Orang tersenyum dan berkata:
Makin banyak wanita melepas pakaian
Makin agung makna kain penutup badan.

(dr buku 'Lautan Jilbab') 

Kamis, 13 Januari 2011

Rindu

Rifi rindu ibu. Rinduuu sekali. Tapi setelah rifi pikir, ternyata rindu rifi bersyarat. Alangkah pamrihnya cinta anak dan alangkah tulusnya cinta ibu..

Rifi rindu ibu, krn kpd beliau rifi bisa bermanja-manja. Rifi rindu, karena ibu satu”nya pembela yg rifi punya. Rifi rindu ibu karena rasa tenteram yg beliau hadirkan di atmosfir rumah. Rifi rindu karena ingin bercerita ttg segalanya. Rifi jd semakin rindu, teramat sangat, ketika rifi sakit. Rifi membayangkan belaian ibu, tatap hangatnya, dan sarapan yg diantarkan ke kamar. Alangkah!


Rifi rindu ibu karena hal” di atas. Sedangkan ibu sll merindui rifi, lebih karena diri rifi sendiri. Bukan menunggu teman bercerita. Bukan agar ada yg membantu pekerjaan rumah. Bukan krn rifi anak yg bisa membanggakan.. Tp karena diri rifi sendiri. Sampai ibu pernah menunggu rifi pulang sekolah, menyiapkan hidangan terbaik, cuma utk melihat rifi datang, makan, tidur, sholat, lalu pergi lagi tanpa sempat cerita apapun. Ibu ga pernah sedetik pun mengurangi kadar cintanya. Sejelek apapun sang anak. Alangkah Ibu mencintai seutuhnya…