Kaki-kaki mungilnya melangkah lincah antara
mengejar kepingan rupiah
dan mengelakkan aspal membara
Tidak ada sandal pembatas lara
tidak ada payung penaung hawa
yang ada hanya kotak tisu dengan karet gelang
di tengah
ia petik sesuka, menemani menjual suara
Tidak! Orang tuanya bukan tiada
hanya saja jerih payah mereka belum mampu
menutupi dahaga
adik bayinya yang tumbuh dengan air gula
Kaca mobil menutup angkuh
pengendara motor mendadak buta tuli
suara klakson membahana sana sini
di perempatan lampu merah
ia seringkali ingin menyerah
tapi ia tahu, tidak boleh kalah!
biar lelah, tetap mencari nafkah
agar adiknya mencecap susu yang baginya mewah
agar sakit ayahnya tidak bertambah parah
agar ia bisa tetap sekolah, dan ..
agar hidupnya tidak sia-sia
-10 Agustus 2011
puisi ini (kalau bs disebut puisi) tadinya dicipta utk mengikuti lomba
tapi krn 1 dan lain hal, akhirnya karya ini tak pernah dikirim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar