Rabu, 28 Desember 2011
Penulis Karangan Mengarang Tulisan
Kau belum juga mulai menulis? Jangan begitu… Aku sudah mulai berpikir dari tadi. Perintahnya menulis, bukan berpikir! Bedakan, dong! Ya, ya. Cepatlah! Mengapa aku harus terburu-buru? Sebab waktu dua jam akan segera habis. Hah? Dua jam?! Bagaimana bisa aku menulis dalam waktu sesingkat itu? Bisa saja. Emha Ainun Nadjib saja menyanggupi lima tulisan tentang sepak bola dalam waktu kurang dari dua jam. Tinggal mengimajinasikan pemetaan dimensi, katanya, memperluas lapangan bola menjadi lapangan nilai, menentukan sudut-sudut, dan jadilah! Lucu sekali. Kau menyandingkan aku dengan penulis yang seolah huruf-huruf telah mengaliri tiap sel tubuhnya, dan di otaknya ada buku yang terbuka yang tinggal ia salin ke atas kertas. Aku jadi merasa terhormat. Sekarang bukan waktunya untuk itu, jawabnya dengan nada tak sabar. Ayo, menulis! Apa yang harus kutulis? Apa saja! Temanya bebas.
Menulis tak segampang itu, kataku setelah, lagi-lagi, tercenung lama. Perlu kuberi contoh lagi? Gus Dur bisa menyelesaikan tulisannya yang dulu biasa dimuat di majalah Tempo sepanjang perjalanan pesawat Jakarta – Singapura. ‘Aidh al-Qarni juga begitu. Mereka biasa menulis. Pena mereka telah lancer menari. Lalu, mengapa kau pun tidak membiasakan menulis? Aku tidak tahu aka nada ujian seperti ini. Guru-guru juga jarang member tugas menulis. Jadi kau menunggu perintah, baru bergerak? Menunggu terdesak, baru berlari? Kalau begitu, apa bedamu dengan hewan? Atau kau robot yang diatur-atur orang lain?
Bukan begitu. Bukankah kita bisa menuangkan isi pikiran jika memang ada isinya? Dan orang-orang yang lancer menulis, tentulah karena penuhnya otak mereka, hingga meluber ke mana-mana. Hoo.. Jadi kau mau bilang bahwa otakmu kosong? Aku tidak menghiraukan. Mengapa perlu ada ujian mengarang, sedang kita tidak dibiasakan sebelumnya? Apa keahlian bisa jatuh dari langit? Bukankah tujuan sekolah adalah pembiasaan hal-hal baik? Jika tidak, apa artinya nilai 100 yang kelak hanya untuk ditumpuk di gudang, menunggu untuk dibuang? Mengapa siswa-siswi bukan diperintahkan menulis sebanyak-banyaknya, dan bukan secepat-cepatnya? Bagaimana bila diberi tenggat waktu untuk menyelesaikan sekian tulisan, bukankah itu akan membuahkan tulisan yang lebih bermutu? Itu teorimu, bantahnya. Nyatanya manusia suka keterdesakan dan gemar menyia-nyiakan waktu ketika luang.
Ahh… Mengapa harus ada Ujian Nasional Praktik Mengarang? Kau heran? Tidakkah kau lihat, bangsa ini sangat menyukai mengarang. Nilai-nilai dikarang. Nama-nama, angka-angka, bahkan waktu pun dikarang! Kalau kau melihat angka 2 jam tertera di jadwal, jangan lekas percaya. Sebab, manusia Indonesia menguasai waktu. Bisa ia ulur panjang-panjang ataupun pendek-pendek. Proyek karangan. Anggaran karangan. Pidato karangan.
Aku memutar otak. Cerewet sekali, dia. Seolah-olah ia bisa menulis lebih baik dariku. Kau bicara saja dari tadi, memangnya kau bisa menulis? Ha! Itulah manusia! Senyum mengejeknya naik dari bibir hingga mata. Ditanya, tidak tahu. Diberi tahu, tidak mau tahu. Diutus Rasul, minta malaikat. Nanti, kalau diturunkan malaikat, tidak mau percaya pula. Diceramahi Presiden, mengomel dalam hati, “Iya, kau enak! Tidak merasakan hidup susah. Kebutuhan hidup semakin mahal.” Orang miskin angkat bicara, balas menyahut, “Jangan naïf!” Pak Kyai memberi nasihat, beralasan, “Beliau memang manusia muli, calon penghuni surga. Tidak bisa kita meniru tindak-tanduk Beliau.” Sekali temannya berucap, segera dibantah, “Kau sesama pendosa, jangan omong besar! Sok suci!”
Aku jadi takjub mendengar kata-katanya. Sebegitu jauh pemikirannya. Kau ini… siapa? Kau baru menanyakanku. Aku ini bisa siapa saja.aku bisa harimau, aku bisa langit. Aku bisa cicak, ataupun buaya. Aku bisa pejabat ataupun tikus. Aku bisa presiden, bisa burung beo. Aku bisa apa saja! Mengapa begitu? Sebab kau sedang mengarang dan aku adalah karanganmu. Maka aku tidak terbatas lingkup dimensi ruang. Bukankah sudah kubilang,… Tunggu! Aku memotong. Kalau begitu, tugasku sudah selesai. Ia terdiam. Bukankah tugasku saat ini adalah mengarang, dan kau bilang kau adalah karanganku. Bisa dikatakan, aku telah melaksanakan tugasku. Benar, bukan?
Ia tak menjawab. Hingga waktu yang lama, suaranya tak lagi terdengar. Kelihatannya sekali ini aku benar. Kelas sudah mulai sepi. Tinggal beberapa siswa yang dari mulutnya riuh terdengar suara hitungan. Pasti menghitung jumlah kata agar mencukupi batas minimal. Aku tak perduli. Sebentar lagi lonceng sekolah berbunyi, dan tugasku sudah selesai.
Senin, 29 Maret 2010
Rifi Adzkia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar