Rabu, 28 Desember 2011
Menghitung korek api
Jika bicara tentang hemat, saya jadi teringat pada Kakek. Menurut cerita Ibu, Kakek adalah seorang pedagang sekaligus petani sukses. Beliau menjadi orang terkaya di kampung waktu itu. Tapi, meskipun kaya raya, Kakek jarang memberi uang jaajn berlebih pada anak-anaknya. Dan Beliau sangat marah jika ada barang yang terlalu cepat habis. Pelit, kata anak-anaknya. Orang-orang di kampung pun, banyak yang menganggap Kakek pelit, karena Kakek seringkali marah pada Nenek yang, menurut Kakek, terlalu murah hati membagi-bagi makanan pada orang-orang sekampung. Rumah yang nyaman dan berstatus sebagai satu-satunya rumah batu di kampung saat itu, menjelma menjadi tempat persinggahan, istirahat, melepas lelah, bahkan mengadukan asap dapur.
Sesungguhnya –sedikit orang yang menyadari-, Kakek tidak bermaksud pelit. Hanya cermat dan penuh perhitungan. Kakek tidak mau anak-anaknya menjadi anak-anak yang malas, manja, dan bisanya hanya bergantung pada orang tua. Kakek juga tidak suka bila warga kampung menjadi pribadi-pribadi pemalas yang mengandalkan orang lain. Inilah maksud Kakek yang salah dimengerti orang-orang. Ada dua pesan Kakek yang selalu diingat Ibu. Yang pertama, dalam suatu rumah, jangaaan sampai, jangan sekali-kali, betul-betul kehabisan garam dan beras. Waktu itu Kakek tidak menjelaskan panjang lebar, namun sekarang Ibu memahami maksud Kakek.
Dua hal tersebut, garam dan beras, adalah barang pokok dalam memenuhi kebutuhan pangan. Kita selalu membutuhkan keduanya. Hingga ketika habis (padahal kita sedang memerlukan), kita terpaksa meminta pada tetangga atau orang lain. Mental peminta dan bergantung pada orang lain inilah yang harus dilenyapkan. Sebab ini yang mengikat manusia, bangsa Indonesia khususnya, dalam lubang kemiskinan. Yang kedua, hidup ini mesti penuh perhitungan, kata Kakek. Bahkan korek api pun harus dihitung. Ibu, yang ketika Kakek menyampaikan itu masih kecil, hanya tertawa dalam hati mendengarnya. Seperti orang kurang kerjaan, korek api saja dihitung, batin Beliau.
Tapi ternyata, sebagian warga di kampung saat itu, memang menhitung korek api! Artinya, mereka berusaha menggunakan seefektif mungkin. Sehingga bisa terjadi, dalam satu hari hanya habis sebatang korek api. Caranya, sebelum menyalakan sebatang korek api, diperkirakan dan direncanakan, apa saja yang akan dilakukan dengan sebatang itu. Memasak dulu, misalnya, atau membakar sampah. Jika memasak, apa dulu yang harus dimasak, dan seterusnya. Bahkan ada yang mensiasati dengan menggunakan pelita yang sumbunya dibuat sekecil mungkin. Pelita ini dimaksudkan untuk menyimpan api, sekaligus sebagai penerang ketika malam. Ada juga yang membuat arang, lalu ditutup dengan sekam. Jika butuh api, tinggal mengorek sekam dan meniup arang. Inilah metode “menghitung korek api” yang diaplikasikan orang-orang tua dulu.
Padahal, korek api waktu itu pun, belum termasuk barang langka ataupun mahal. Namun mereka menghargai tiap batang yang terbuang. Seharusnya kita lebih prihatin, khususnya terhadap BBM. Mengingat BBM (dalam hal ini, minyak bumi), adalah sumber daya yang dibutuhkan di seluruh dunia dalam jumlah besar, sedangkan stoknya di Bumi bukan tanpa batas.
Sesungguhnya ini adalah masalah mental.
Bangsa ini belum tergolong baik dalam hal menghargai. Murid yang mencontek pekerjaan temannya, ia tidak menghargai usaha orang lain. Remaja yang menghabiskan waktu tanpa guna, alangkah tidak menghargai pahlawan pejuang kemerdekaan, yang berjuang mengorbankan jiwa raga demi kebebasan yang bisa kita nikmati. Pelanggaran aturan yang terus menerus terjadi, artinya tidak menghargai si pembuat aturan dan aturan itu sendiri. Dikaitkan dengan masalah BBM, kita seringkali tidak menghargainya. Menggunakan sesuka hati, tak jarang untuk hal yang tidak atau kurang bermanfaat. Padahal, menurut saya, seharusnya kita menghargai minyak bumi tak jauh beda dengan menghargai sebuah nyawa. Sebab, seperti halnya nyawa, kita tak bisa membuat minyak bumi. Setiap tetes yang terbuang takkan mungkin kembali lagi.
Oke, anggaplah ini terlalu berlebihan. Tapi fakta bahwa “tidak menghargai” adalah wabah yang menimpa rakyat Indonesia, saya rasa tidak berlebihan. Mengapa banyak orang membuang sampah sembarangan, korupsi masih meraja lela, tindak criminal di mana-mana, semua itu adalah refleksi sikap tidak menghargai. Jadi, jelas, ini masalah mental. Dan jelas, orang-orang dulu yang mengamalkan prinsip “menghitung korek api” (minimal kakek saya), sudah lebih dulu mengetahui pentingnya membangun mental.
Tanpa kita sadari, banyak hal kecil di sekitar kita yang sebenarnya berpengaruh besar dalam membentuk kepribadian atau mental kita. Kedua nasehat Kakek di atas (yang terkesan remah dan konyol) tentu bertujuan menyorot mental. Mengenai nasehat yang pertama, saya rasa sudah cukup jelas. Memupuk perasaan “memiliki” dengan terus menjaga stok kebutuhan pokok di rumah otomatis menjauhkan kita dari perasaan “tidak punya” yang mana perasaan seperti ini bisa menjadi sugesti yang mungkin terwujud dalam kenyataan. Nah, mengenai yang kedua,.. orang yang membiasakan diri menghitung korek api akan terbiasa melihat lebih jauh ke depan dan merencanakan dengan sistematis. Jika hal kecil seperti korek api saja diperhatikan, apalagi untuk yang lebih besar dan lebih penting. Menghitung korek api juga berarti berlatih mengurutkan skala prioritas. Jika kita membiasakan siakp seperti itu, walau bukan betul-betul menghitung korek api, tentu menghemat tak lagi jadi persoalan rumit.
Membangun mental. Inilah yang harus dilakukan jika mengharap perbaikan negeri. Apalah artinya menaikkan gaji, tunjangan hidup, atau apapun istilahnya, tanpa memperbaiki mental. Jika diprediksi kenaikan gaji polisi akan memperbaiki kinerja pelayanan pada masyarakat, misalnya, saya katakan: salah besar, jika tak diiringi perbaikan mental. Jika diperkirakan memperbesar tunjangan anggota dewan akan membuat mereka semakin memikirkan rakyat, sekali lagi, tanpa perbaikan mental, saya akan tertawa seperti mentertawakan lelucon paling konyol. Selama belum dihilangkan mental-mental pencuri, rakus, pemalas, semua hanya akan menjadi omong kosong. Dengan mental yang masih anjlok, memberi materi berlimpah sama sekali bukan solusi. Justru, semakin kaya, orang akan semakin rakus. Semakin tahu bagaimana menghabiskan uang. Semakin mengerti cara memanjakan diri. Dan tentu, akan semakin tamak, mengharap materi lebih banyak lagi. Itulah pentingnya membangun mental. Bagai akar yang menentukan kokohnya sebuah tanaman. Saya tidak berani menjamin keberhasilan alternative lain, yang tidak menyertakan pembentukan mental. Oleh karena itu, saya memilih untuk membahas masalah mental, bahkan untuk tema BBM.
“Menghitung korek api” adalah ilmu dari para pendahulu, yang terbuang. Begitu pula, banyak ilmu-ilmu lain yang seringkali, bahkan lebih baik dari solusi modern. Ilmu pertanian, medis, tata boga, tata busana,.. mungkin masih bisa kita ingat, bagaimana ketika sakit cacingan, Nenek di kampung segera membuatkan rujak dengan pepaya muda. Ketika menanam ubi, Kakek, dengan ilmu perkebunannya, sukses menghasilkan ubi sebesar semangka. Belakangan ini kita dihebohkan oleh berita kentang seukuran durian monthong. Tapi Kakek telah lebih dulu berhasil melakukannya, puluhan tahun silam. Ini adalah fakta tentang orang kampung yang seringkali dianggap ketinggalan jaman. Kita begitu bangga dengan sebutan manusia modern hingga rela kehilangan ilmu-ilmu yang sangat berharga, baik ilmu fisik maupun moral. Padahal nyatanya, dengan modernitas yang kita usung tinggi-tinggi tak menjadikan kita lebih baik dari orang-orang terdahulu. Manusia zaman sekarang bahkan dicap mengalami keterlambatan pendewasaan. Ah, sekiranya kita tak terlalu sibuk mengejar-ngejar perkembangan zaman yang takkan ada habisnya, dan bersedia mengingat kembali ajaran orang-orang sebelum kita, Bumi yang nyaman dihuni tak lagi sebatas impian.
Sedikit menambahi, saya ingin mengingatkan kembali bahwa Allah tak main-main ketika menciptakan manusia. Bahkan orang atheis pun meyakini, manusia tercipta terakhir, setelah seluruh semesta disiapkan baginya. Yang ada di Bumi, baik di atas permukaan, maupun di bawah tanah, seluruhnya adalah untuk manusia. Seluruhnya! Bahkan “penyambutan” ini memakan waktu ratusan juta tahun, jauh melebihi kita menyambut presiden manapun. Salah satunya adalah minyak bumi. Tentu bukan tak sengaja Allah pendam tulang-belulang demikian lama hingga menjadi minyak yang sangat kita butuhkan. Sebelum manusia dijadikan penghuni dan pemimpin Bumi, Allah telah mempersiapkan segala fasilitas untuk memudahkan penghidupan dan menjalankan kepemimpinannya. Fasilitas yang masih sangat sering disalah gunakan. Ya, Allah tak pernah main-main dalam penciptaan manusia. Manusianya saja yang suka bermain-main dengan sang Pencipta.
Bontang, 8 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar